Selasa, 08 Agustus 2017

SELASHAring: 1, 2, 3 Mari Menyusui ...



Kalau dipikir-pikir, status beranak tiga dan yang bontot sudah berusia lebih dari dua tahun, rasanya kurang cocok jika ikut acara Cerita Bunda bersama Prenagen lactamom yang diselenggarakan haibunda.com dan bekerja sama dengan Prenagen dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2017 pada 05 Agustus lalu di cafe dia.lo.gue, Kemang. Namun, nyatanya walau ada begitu banyak informasi yang bertebaran tentang ASI, tidak sedikit para ibu yang mengalami kesulitan saat hendak memberikan ASI pada anaknya. Maka, dengan datang ke acara seperti ini, saya bisa mengupdate informasi ke kawan-kawan, syukur-syukur bisa berbagi pengalaman. 

 "Bagi ibu mungkin sudah menjadi pengalaman menyusui yang kedua atau ketiga, tapi bagi si anak itu adalah pengalaman pertamanya." kata Dr. Yolanda Safitri, MPH (M) Konselor Laktasi; Bunda International Clinic sebagai narasumber pertama. 


Menyusui itu ternyata tidak seperti naik sepeda, karena melibatkan pihak lain sehingga butuh waktu untuk beradaptasi. Dan dari anak pertama hingga ketiga, cerita tentang menyusui tidak pernah sama. 


Anak Pertama: Pembuka Jalan yang Butuh Keberanian dan Kepercayaan Diri


Tantangan terbesar bagi saya usai melahirkan putri pertama saya bukanlah proses pelekatan bayi pada puting ibunya, melainkan tanggapan orangtua saya terkait ASI saya. Ketika bayi masih belajar dan belum berhasil, ASI diperah tapi cuma iseng-iseng basahin dasar botol, membuat saya akhirnya membeli susu formula. Kepala saya sudah pening dengan omongan sana-sini. 

"Tenang aja, lambung bayi baru lahir itu baru sebesar kelereng." Itu kata kawan saya via message. Kalimat yang seperti guyuran air di gurun pasir. Saya tak lagi menyalahi diri sendiri, dan punya sedikit tenaga untuk mengumpulkan kepercayaan diri.  Dan kuping perlahan tertutup dengan berbagai konten negatif. Fokus saling belajar bersama si sulung dalam menyusui. 

Pada hari ketiga, ASI saya akhirnya keluar dengan normal. Walau salah satu putingnya perlu disedot oleh si sulung dengan sangat kuat selama satu minggu pertama dan itu rasanya ... luar biasa, seperti mau melahirkan saja ^^' Alhamdulillah masih kebagian kolostrum yang ternyata masih berproduksi hingga 5 hari setelah melahirkan. 

Bagaimana dengan sufor yang dibeli? Saya berseru gembira ketika si sulung menolak diberi sufor, "YES!!!"


Tantangan berikutnya adalah menjadi busui yang bekerja. Seminggu pertama saya kembali bekerja, si sulung bingung puting, hingga saya pernah minta izin pulang lebih cepat untuk menyusui karena anak saya sama sekali menolak diberi ASIP. Dan beberapa hari, saya hipnoterapi, membisikinya selagi menyusu atau saat tengah ditimang hendak tertidur. "Kalau Ami kerja, Malika nyusunya lewat botol ya. Nanti Ami pulang, baru nyusu langsung lagi." Dan berhasil! 


Lingkungan kantor pun mendukung, walau belum memiliki ruangan khusus tapi saya diberi waktu untuk melakukan pumping di jam kerja. Begitu sudah agak ahli, saya bisa memerah sambil bekerja atau bahkan saat rapat. Ketika satu kantor diwajibkan ikut pelatihan di luar kota, saya nyaris tidak mau ikut karena ASIP saya terbatas dan anak masih ASI Eksklusif. Namun pimpinan saya, dengan semangat 'tetap bekerja walau menyusui' mengizinkan saya membawa bayi dan suami saat itu bersedia mengambil cuti dadakan, dan karena bawa rombongan, saya pun diberikan satu kamar sendiri di hotel. Sungguh terharu saya dibuatnya. 


Si sulung ini menjadi anak yang paling sebentar waktu menyusuinya karena di usia 10 bulan, saya sudah hamil lagi. Tanpa disapih, si sulung berhenti menyusu di usia 13 bulan. 



Anak Kedua: Si Penyundul yang Butuh Kesabaran 


Situasi saya saat melahirkan anak kedua agak berbeda. Sudah berhenti bekerja dan pindah ke rumah sendiri di usia bayi 40 hari. Saya pikir bisa jadi lebih fokus, tenang, dan sebagainya. Tapi ... eh ternyata ga juga loh. Karena si anak tengah ini, laki-laki, dan menyusunya bisa berjam-jam. Serius. Berjam-jam. Dari saya masih elus-elus ajak ngobrol, hingga ketiduran, lalu bangun lagi, itu anak masih saja nempel. Dan kalau saya lepas, anaknya bangun lalu minta nyusu lagi. Eh ya ampuuuun .... Mau minum saja ga bisa. Apalagi masih ada si kakak kecil. Dari dibujuk disuruh nonton sampai filmnya habis, belum kelar juga. Akhirnya si kakak turut nimbrung dengan mainannya di sisi lain ibunya. Menyusu sambil momong. Tak jarang menyusu sambil nulis blog, di hape jadul yang lemot, bisa loh jadi satu postingan.  Masih syukur terkadang dikirimi sayur daun katuk sama mama. Dan kalau si ayah belum berangkat kerja, si sulung bisa memuaskan rasa bermainnya. Atau saya bisa sejenak membetulkan posisi tubuh saya yang kaku berjam-jam ketika si ayah memandikan anak cowok ini atau mengajaknya berjemur. Pada saat-saat seperti ini, dukungan walau remeh-temeh itu sangat berarti loh. Hasilnya, anak laki ini betah menyusu hingga usia 2,5 tahun. 


Anak Ketiga: Si Bontot yang Menolak Disamakan


Baru saja saya buang bra menyusui saya setelah 4 tahun digunakan, merayakan hari bebas menyusui, eh saya hamil lagi. Persis satu bulan setelah si anak tengah berhenti menyusu. Hampir-hampir mirip dengan salah satu narasumber Ilma Rineta (Co-Foundaer Circle of Moms) yang juga menyusui nonstop dari tahun 2012, tiga dari empat anaknya adalah laki-laki, dan gragas juga menyusunya ^^' . Saya Cuma bisa elus dada dengarnya.

Pada kehamilan ketiga ini saya cuek luar biasa. Gayanya petantang-petenteng. Ah, gue dah jago lah. Tapi eh tapi, untuk pertama kalinya saya merasakan puting lecet oleh bayi yang ga punya gigi. Badan masih remuk usai melahirkan, tulang punggung masih kram, payudara bengkak, dan sobek ... huaaa rasanya mau nangiiiis ... Butuh waktu seminggu baru bisa normal. Itulah namanya kualat ^^' Dan ternyata  75% ibu menyusui mengalami puting lecet. Jadi itu biasa, normal seperti halnya masalah lain dalam menyusui mulai dari berat badan bayi turun (selama belum 10% dari BB bayi masih dianggap normal), bayi sebentar-sebentar menangis (bukan karena ASI kurang, melainkan karena ASI mudah dicerna bayi), hingga bayi kuning (dikarenakan organ tubuh bayi pun masih belajar mengelola bilirubinnya). Jadi, ga perlu khawatir. Perbaiki lagi pelekatannya. 

Bersyukur sudah tidak ada lagi lingkungan dengan konten negatif. Baik keluarga, kawan, hingga tetangga yang datang senantiasa membawa sesuatu yang mendukung saya selama menyusui di minggu-minggu pertama. 

Tantangan saya di anak ketiga adalah gizi. Saya terbiasa menurunkan prioritas diri saya terkait gizi makanan karena saya sudah tidak ada waktu memasak untuk diri saya sendiri. Akhirnya makan ala kadarnya. Sehingga banyak asupan seperti zat besi dan kalsium yang sudah menjadi isu saat hamil anak ketiga, yang tidak terpenuhi. Hal ini yang membuat saya curiga apakah itu yang menyebabkan gigi-gigi pertama anak saya tidak tumbuh dengan bentuk sempurna.  Tidak kotak mulus melainkan runcing-runcing gompal-gompal.  Hadooh. 

Tapi cukup sudah. Tiga pengalaman sudah lebih dari cukup bagi saya hehehe ... 


Terkadang kita lupa, saat menjadi busui, kita pun masuk ke kalangan VIP di rumah tangga.  Makanya memang harus selalu ingat bahwa di zaman sekarang ini support system untuk ibu menyusui sudah semakin membaik, seperti dengan begitu banyaknya pilihan susu khusus ibu menyusui yang rasanya pun enak. Konselor ASI bertebaran, seminar tentang ASI pun sering diselenggarakan, komunitas ASI juga beragam. Semoga dengan begini, para ibu menyusui semakin nyaman menyusui anaknya. Dengan perasaan bahagia dan penuh cinta.  

Jumat, 02 Juni 2017

JJS: Kedinginan di Pantai Anyer




Curah hujan masih tinggi, tapi keinginan Suami untuk piknik sepertinya tak terbendung lagi. Pilihannya, kehujanan di puncak atau kehujanan di pantai? Akhirnya pilih pantai, biar air ketemu air.
Perjalanan kali ini mengikutsertakan mama dan papa saya juga keponakan yang dapat tugas menyetir ^^’ Lewat jalur Banten, kondisi jalan cukup lancar dan berhenti makan siang persis di seberang menara mercu suar. Anak-anak sepanjang jalan sudah tidak sabar ingin ketemu laut, sehingga agak tidak fokus dengan makan siang.



1. MERCU SUAR – KARANG BOLONG
Usai makan siang, kami tidak langsung ke penginapan, melainkan mampir ke lokasi wisata zaman saya kecil, Karang Bolong. Sekitar 15 menit berkendara. Sesampainya di sana, sepi. Mungkin karena bukan musim liburan kali ya. Setelah membayar tiket masuk Rp15000,- per orang, kami pun langsung menuju TKP. Anak-anak seperti pemanasan dengan pasir pantai di sana. Belum sempat mengeksplor spot foto yang menarik lainnya, hujaaan. Padahal sepanjang perjalanan Jakarta-Anyer, cuaca senantiasa cerah. Jadilah kami yang belum sampai setengah jam di sana berlarian kembali ke tempat parkir. Hati-hati ya, tempat parkirnya harus menyeberang jalan soalnya.



Dari penglihatan singkat sih kelihatannya agak kurang digarap ya Karang Bolong ini. Konon ada kolamnya, tapi ya ga tampil gitu. Model kaya gini harusnya dibuat spot foto yang banyak. Spot foto yang sesuai dengan tema laut dan pantai ya.
 
2.  NUANSA BALI COTTAGE
Setelah aksi lari-lari kecil ke tempat parkir, kami akhirnya balik arah menuju Nuansa Bali Cottage. Sesuai namanya, tempat ini didekorasi agar seolah-olah seperti di Bali. Cottage yang dipesan suami adalah cottage dua kamar dan dua kamar mandi yang salah satunya berada di samping dapur.
Hujan sudah reda. Anak-anak langsung menghambur ke pantai pasir putih.




 Tak perlu lama, sudah disambut hujan. Mereka pun pindah ke kolam renang, tapi karena hujannya juga bersamaan dengan angin kencang yang dingin, tak butuh waktu lama mereka kembali ke cottage yang tidak jauh dari kolam dalam keadaan menggigil. Macam orang mandi di es saja hehehe ...


Hujan terus menderu hingga malam. Saya bersyukur karena membawa rice cooker dan mama membawa lauk, karena hujannya benar-benar bikin mager. Kami masih bisa menyantap makanan hangat di antara angin dingin yang masih berhembus kencang di luar sana.




Dengan cuaca mendung seperti ini, pupus sudah harapan memotret matahari terbit. Saat jalan pagi bersama anak pun, kami sempat kehujanan di tengah perjalanan pulang dan berteduh di salah satu atap warung yang belum buka.

Jalan pagi di pantai tapi pakai jaket hehehe .... sungguh bukan outfit yang sesuai.

Entah apa karena cuaca atau memang kebiasaannya, sarapan kami diantar ke cottage. Soalnya saya lihat tenda yang sejatinya menjadi tempat orang menyantap buffet tidak dibuka sejak semalam.



Jelang siang, cuaca baru agak bersahabat. Anak-anak menyempatkan naik trail. Saya tadinya mau foto di dermaga, tapi ditutup. Mungkin karena angin kencang jadi agak berbahaya jika beraktivitas di sekitar dermaga. Jadi saya perhatikan saja para pekerja yang tengah menyiapkan kursi di gedung aula yang disediakan Pesona Bali Cottage. Sepertinya akan ada acara ....




Matahari kian semangat bersinar, tapi kami sudah harus pulang. Sepertinya kita tidak berjodoh dengan awan merah muda dan jingga kali ini hehehe .... Ga papalah, yang penting ketemu pantai yang ada ombaknya.

Pulangnya, kami sekeluarga sakit semua. Masuk angin hihihiy ... oleh-oleh Pantai Anyer.

Jumat, 26 Mei 2017

JJS: Mengurai Kisah Keong Mas di Taman Legenda TMII



Tujuan utamanya memang Taman Legenda, karena si sulung dapat dipastikan akan suka sekali. Maklum, penggila dinosaurus. Namun, sekaligus ingin menuntaskan rasa penasaran si anak tengah yang belum pernah nonton di Keong Mas, TMII sementara kakaknya sudah. Rasanya ga matching, tapi ternyata kedua tempat ini saling berhubungan satu sama lain.

1. Rasa Orde Baru di Keong Mas, TMII
Datang ke Keong Mas seharusnya sudah tahu jadwal film yang diputar apa saja dan jam berapa saja, karena setiap jam beda-beda temanya. Saat itu kami sesuai takdir saja hehehe dan dapat jadwal film berjudul “Mutumanikam Nusantara”. Yah film jadul lagi deh.


Pada kunjungan pertama bersama anak sulung, saya menyadari bahwa theater iMax ini kurang di-update judul-judul filmnya. Rasanya sayang, padahal teater ini keren banget loh, belum ada kayanya yang layarnya sebesar ini di bioskop-bioskop ibukota. Sebenarnya ada sih, film-film baru tapi kemunculannya ga selalu satu bulan sekali.

Sembari menunggu, anak-anak melihat koleksi keong-keong nusantara yang dipajang di sekitar kuris-kursi tunggu. Padahal Keong Mas itu kan berasal dari cerita rakyat ya? Kenapa ga ada ceritanya di sekitar sini?

Film dimulai. Dan memang rasa orde baru ya. In a funny way.  Soalnya begitu melihat nama-nama yang muncul sebagai orang di balik layar kenapa jadi seperti melihat susunan kabinet ya? Hehehe .... Meski begitu, buat saya, film dokumenter ini digarap dengan baik. Ga asal jadi gitu loh. Dengan teknik kamera bergerak, film ini sukses membuat saya pusing dan kaki saya berdenyut ngeri saat menyunting ketinggian. Materinya sih tentang keberagaman nusantara, hanya beberapa daerah yang diangkat (ada beberapa seri sepertinya) dan masih ada Timor Timur ^^. Zaman sekarang kayanya boleh juga dibuat versi terbarunya, gampang kan sudah ada drone.
HTM: Rp.35000,-/orang

2. Taman Legenda:  A Place for a Freespirited Kid, like mine
Usai makan siang di warung dekat Keong Mas, kami sekeluarga jalan menuju lokasi Taman Legenda. Jika mengikuti jalan mobil, letak Taman Legenda berada di belakang area Keong Mas, setelah melewati Klenteng. Dari area parkiran sudah terdengar ‘suara-suara’ dinosaurus yang membuat anak-anak tak sabar menuju lokasi.

Saat mencapai loket, ada beberapa item paket top up. Seperti ketika ke Mekarsari, tiketnya berbentuk gelang yang berisi saldo untuk pembayaran wahana-wahana di dalamnya. Tadi saya mau ambil tiket terusan senilai Rp125000,- tapi saya pikir-pikir kan ga mau berenang. Soalnya sudah siang dan berenang itu bisa menghabiskan banyak sekali waktu plus saya ga bawa baju renang untuk anak-anak.  Akhirnya saya isi masing-masing gelang Rp100000,- toh bisa top up di dalam kalau kurang.

a. Petualangan Dinosaurus (Rp.25000,-/orang)
Tentu ini jadi wahana pertama yang dimasuki. Dengan robot-robot dinosaurus yang bersuara, bergerak-gerak kepalanya, bahkan ada yang menyemburkan air, si sulung senang bukan kepalang. Kecuali si anak tengah yang marah karena kaget. Area dinosaurusnya  siy tidak besar, cepat habisnya. Si sulung dah komplen, “Hah, gini doang?” sebelum kemudian pandangannya terjatuh pada area Arkeolog Cilik alias area pasir. Sebenarnya itu area pasir yang ada ‘rangka’ dinosaurus yang tertutup, jadi bisa pura-pura tengah menggali. Kebetulan hujan turun, jadi semakin ada alasan anak-anak berlama-lama main di situ.



b. Andong (Rp. 20000,-/andong)
Kata  suami saya, ini andong beneran karena rodanya dari kayu. Naik andong ini juga termasuk murah meriah karena hanya butuh top up dari satu gelang tapi bisa dinikmati beramai-ramai.  Lumayan dapat dua putaran.

c. Mata Legenda (Rp20000,-/orang)
Saya selalu suka ferris wheel. Lebih tepatnya selalu suka foto dengan ferris wheel sebagai latar belakang. Pengen coba di seluruh dunia, tapi belum mampu hehehehe ...




Sebenarnya naik mata dewa ini lebih bagus saat malam. Namun, di hari-hari tertentu, Taman Legenda hanya buka hingga sore, seperti hari itu saya datang. Ruangnya benar-benar tertutup, jadi aman. Bisa lihat TMII dari ketinggian. Beda rasa dengan ketika naik kereta gantung sih.



d. Memberi Makan Binatang (Rp5000,-/pakan)
Anak-anak kemudian bingung mau masuk wahana apa lagi karena ada berbagai macam permainan.  Mau naik komidi putar tingkat, saldonya ga cukup. Akhirnya saya tawarkan memberi makan binatang, dan mereka langsung bersorak gembira. Yang dihitung hanya pakannya, jumlah orang yang kasih pakan sih bebas. Jadi ketika memberi makan kelinci di dalam kandangnya yang cukup lapang, kami sekeluarga masuk dengan membawa dua gelas pakan saja. Si kecil juga bisa berinteraksi dengan kelinci yang memang kan ga agresif ya. Jadi suasana tenang, lucu-lucu gitulah.


Usai memberi makan kelinci, lanjut ke kambing. Kambing juga bukan kambing yang bisa kita lihat saat idul adha. Dari ukuran hingga tanduknya saja berbeda.



e. Taman Legenda (gratis)
Area Taman Legenda itu sendiri adalah area taman dengan varian air mancur. Ada patung-patung di situ yang masing-masing merupakan adegan-adegan dalam kisah Keong Mas. Jadi anak saya yang berjiwa bebas itu langsung menerjang Taman Legenda dengan tangan terbuka lebar, mengitari tanpa lelah setiap patung dan membaca keterangan kisahnya satu persatu. Cocok untuk santai-santai untuk para orang tua karena disediakan gazebo di beberapa tempat, tempat bagi anak-anak untuk berlarian bebas tanpa hambatan (entah berapa kali mereka keliling-keliling tempat yang luas itu), dan spot keren untuk foto-foto dengan landscape alamnya. Kalau tidak ingat hari sudah semakin sore, mungkin bisa lebih lama kami di situ.



f. Teater
Sengaja saya taruh di akhir wacana gratisan ini, sebagai ajang istirahat anak-anak sebelum pulang. Sebuah mini teater yang menayangkan film kartun tentang Keong Mas. Ilustrasinya bagus, dialognya dipahami anak-anak dan tidak lebay. Ruangannya cukup dingin (sekalian ngadem). Bagi anak-anak, serangkaian jalan-jalan ini disimpulkan dengan sempurna dengan film ini. Jadi mereka bolak balik mengaitkan dengan apa yang mereka temui selama berada di TMII. Ga nyangka ternyata bisa nyambung hehehe ....

Taman Legenda sudah hampir tutup, ketika saya menukar gelang, saya masih dapat sisa Rp15000,-/gelang. Rp.10000,- dari jaminan gelang, Rp. 5000,- sisa saldo. Lumayan kan kalau dikali 4. Next time mungkin coba yang terusan, dengan catatan harus dari pagi hehehe ...



Rabu, 24 Mei 2017

RABUku: 30 PASPOR The Peacekeepers’ Journey


Buku ini saya bawa sebagai teman perjalanan saat hendak ziarah makam mertua di Jawa Tengah. Belum habis dibaca, karena ternyata waktu bersama keluarga tetap lebih menyita keseharian. Ini adalah seri ke-3 dari 30 PASPOR. Misi perdamaian menjadi alasan saya membeli lagi buku ini. Tentu saya berharap ada hal baru dari penceritaan buku ini. Sesuatu yang lebih. 

J. S. Khairen lagi-lagi menjadi pengolah formula cerita. Yang bisa saya katakan, dia sudah sangat banyak berlatih. (lha lalu saya kapan berlatihnya?) 

Tantangan pergi keluar negeri oleh Pak Rhenald Kasali telah mencapai ketenarannya hingga sebelum masuk pun, sudah banyak mahasiswa yang bahkan telah menyiapkan akan pergi ke negara mana. Dan kemudian aturan permainan pun berubah. Tidak hanya satu, tetapi dua negara. Bukan sekadar mengamati negara dengan persepsi sendiri, tapi juga membawa misi perdamaian. Harus membantu orang. 
Kesannya sepele, tapi bagi banyak mahasiswa/i hal ini tidak sesederhana itu karena islamophobia tengah melanda Eropa. 

Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan, di hari-hari terakhir ada saja yang tertimpa musibah, entah itu harus menjalanakan operasi besar bahkan ada yang baru saja patah kaki, tapi semangat tidak luluh. Bahkan kalau perlu, tidak bilang-bilang dulu soal penyakitnya, karena takut tidak diizinkan. 

Hal ini menjadikan kisah perjalanan ini lebih mendalam karena tertuang lebih banyak rasa. Makanya, hidung saya beberapa kali tergelitik menahan haru. Rupanya banyak yang menjadikan perjalanan ini sebagai momen kontemplasi diri, padahal tidak sedikit di antara mereka yang sudah berpengalaman travelling di Indonesia. Ketika prasangka baik berbuah kesialan. Dan ketika prasangka buruk ternyata hanyalah prasangka. Ada-ada saja cara Yang Maha Kuasa menyelipkan pelajaran dari sebuah perjalanan. 

Asia Timur dan Eropa memang menjadi tujuan favorit, selain karena spotnya yang menggiurkan untuk dinikmati, kesempatan nyasar lebih sedikit. Ga terlalu rumitlah karena struktur yang lebih tertata. Para mahasiswa ini juga terlatih menggunakan couchsurfing. Sehingga ketika mereka tiba di negara tujuan, sudah tahu harus bertemu dengan siapa. Bedalah anak zaman sekarang, bingung komunikasi saja tinggal buka aplikasi We-Chat. Selain itu, menginap di hostel murah terbukti lebih memudahkan mendapatkan teman baru ketimbang mereka yang tinggal di hotel. Makanya, ada anak yang di tanah air sudah disiapkan hotel dan dilunasi orangtuanya, akhirnya memilih untuk belok ke hostel murah. Intinya, anak-anak secara kelompok cukup dibekali. Jadi ga serta merta disuruh pergi ke luar negeri. Apalagi ternyata masih ada saja anak yang bahkan belum pernah naik pesawat. Keberangkatannya nyaris gagal karena biaya. Entah rezeki apa yang membuatnya bisa menuntaskan tugas kuliahnya itu.  

Lucunya, tidak ada mahasiswa dalam buku ini yang tergerus nasionalismenya sepulang dari perjalanannya. Malah sebaliknya. Ada syukur, ada asa.  

I wonder, kira-kira tantangan apa selanjutnya di kelas Pak Rhenald Kasali? Akankah ada anak yang mengunjungi negara yang aneh, yang butuh transit berkali-kali, yang membutuhkan waktu berhari-hari perjalanan? 

Oia, JS Khairen ini juga menerbitkan karya terbaru loh di Noura Publishing. Coba ditengok-tengok media sosialnya. 

Rabu, 10 Mei 2017

RABUku: Semangat Dakwah Islam Lewat Komik di IBF


 Al Fatih vs Vlad Dracula & Liqomik, semangat dakwah lewat komik


"Kenapa banyak yang pakai peci ya?"
Kalimat pengemudi taksi itu menggantung. Saya tak mau berspekulasi apa yang dia pikirkan. Langsung saja saya menjawab kalimat yang mungkin awalnya hanya untuk dirinya sendiri. 
"Kan sedang ada ISLAMIC book fair," ujar saya seraya menekankan kata 'Islamic'. 
Mendadak suaranya berganti riang, "Oooh jadi muslim semua yang datang ke sini ya, bu?"

Ah, abaikan kata 'bu' yang tak bisa saya tolak karena bukti nyatanya ada tiga bocah bergelimpangan duduk di samping saya.


Berbeda dengan kunjungan ke BBW, kedatangan saya ke IBF 2017 lebih karena menjadi personal shopper untuk pengadaan perpustakaan masjid Nurullah kalibata City. Plus, misi pribadi, mencari komik kompilasi yang berisi karya abang saya dan konon baru rilis saat IBF.

Maraknya komik dakwah islami, memang memeriahkan gelaran IBF kali ini. Duluuu sekali, untuk tampilan stan di IBF biasanya Mizan, Republika, atau al Mahira yang padat pengunjung dan heboh dekorasinya. Nah, yang kemarin ini rasa-rasanya semua stan penuh sesak oleh orang, sehingga saya kesulitan mencari buku dari stan yang memajang buku-buku dari berbagai penerbit. Mau tak mau, saya fokus mencari penerbit Perisai Quran Kids dan Gema Insani Press dan salsabilla terlebih dahulu.

PERISAI QURAN KIDS dapat dikatakan menjadi pilihan termudah bagi mereka yang ingin menikmati buku anak-anak islami dengan ilustrasi faceless. Mungkin ada yang tidak terbiasa dengan metode ini, tetapi dengan tutupnya Perisai Quran dan lebih fokus ke Perisai Quran Kids, menunjukkan bahwa buku semacam ini sudah banyak peminatnya. Pilihan set nya juga banyak, saya jadi teringat pelajaran tarikh saat di madrasah dulu. Saya kebetulan sudah memborong judul-judul di penerbit itu,, mendapatkan beberapa set judul terbaru sambil request beberapa tema ke orang dalam penerbitnya.

Penerbit-penerbit lain juga marak dengan buku-buku anak islami dengan ilustrasi yang tak kalah menarik. Hanya saja, kebanyakan temanya itu lagi itu lagi. Jadi kalau sudah punya versi penerbit lain, ya ga dibeli. Sayang ya jadi saling terkam konsumen ...

Setelah berkeliling dari depan ke belakang lalu ke depan lagi, saya kesulitan mencari penerbit salsabilla yang juga menerbitkan komik Muhammad al Fatih. Saya lupa nama induk penerbitnya. Eh dilalah, penerbit itu nongkrong di paling depan, alias Penerbit Al Kautsar. Akhirnya ketemu yang dicari, Liqomik. Tapi eh apa itu di samping? Al Fatih vs Vlad Dracula? Wah ini must have ^^

Ingat 99 Pesan Nabi dan Pengen Jadi Baik? Yang menjadikan komik islami ini istimewa adalah bahwa sang komikus bertindak pula sebagai penulis cerita sehingga citarasanya lebih personal. Hal ini pula yang kemudian menyorot (banyak) komikus yang peduli menyebarkan dakwah Islam di antara orderan-orderan lain. Dalam LIQOMIK sebagian dari mereka membuat kompilasi.

Temanya beragam. Ada yang bercerita tentang alasannya giat berdakwah lewat komik, ada yang mengangkat kisah islami populer seperti Abu Nawas bahkan ada yang mengangkat tentang hubungan Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Ada juga yang kolaborasi antara ide dan ilustrasi, nah kalau itu, karya abang saya, Roel yang tandem dengan Berny J. Rasanya gimana gitu lihat nama abang saya di antara nama-nama keren seperti Vbi Djenggoten, SQU, Ardian Syaf yang kontroversial kemarin itu, dan masih banyak lagi. Menariknya, ada komik sambutan juga dari Arham Rasyid. Perlu ditambahkan, di Liqomik Ga hanya komikus cowo loh, ada juga komikus cewe. Kayanya lucu juga tuw kalau ada komik terkait fiqih wanita, tapi jangan yang sadis-sadis kritiknya. Harus lemah lembut, penuh kasih sayang.

video


Sayangnya, baru saja saya buka, sudah ketemu ada yang kelewat. Saat itu saya hendak mencari karya abang saya, pakai daftar isi dong, ealah penomorannya keliru ^^ remeh siy, cuma mumpung ketangkap di mata saya jadi diungkap aja hehehe ... mungkin buru-buru kejar momen IBF kali ya. Segera cetak ulang supaya bisa direvisi oke? Apakah akan ada Liqomik #2? Hmmm musti tanya orang dalam niy hehehe ... Mudah-mudahan edisi selanjutnya, temanya lebih sinergis. Kalau yang sekarang kan lebih kaya pengenalan para komikus, sehingga temanya beragam.

 Oh iya, walau dibuat dengan semangat dakwah tinggi, para komikus bukan hendak menasbihkan diri sebagai ustad atau ustazah loh. Feel free bagi para pembacanya untuk mengkaji lebih lanjut dengan para ustad atau ustadzah yang lebih paham, karena inti dari dakwah itu agar kita menjadi lebih pintar dalam memahami agama Islam. Mari belajar bersama.

Tadinya saya pikir AL FATIH VS DRACULA itu hanya judul talkshow di IBF, rupanya itu judul buku toh. Sebagai kolektor serial Al Fatih, tokoh Vlad Dracula memang bikin penasaran. No, kita ga lagi membicarakan pre serial vampir, but the real Vlad Dracula did exist dan bersinggungan dengan superhero Islam sepopuler Muhammad Al Fatih. Buat saya itu keren banget.

Yang berbeda dari komik ini adalah, komikus Handri Satria tidak sendiri. Didampingi Sayf Muhammad Isa yang turut membidani komik Ghazi kini bertindak sebagai scriptwriter. Pantas jadi berbeda sedikit penuturannya. Dalam episode pertama bertajuk Kegelapan, serial ini memperkenalkan Vlad di awal-awal rencananya membalaskan dendam pada Al Fatih. Ngeri-ngeri sedap gitu bacanya. Ada lebih banyak aksi ketimbang intrik dan dalam adegan berdialog padat pun masih deg-degan bacanya. Padahal bukan cerita horor. Saya jadi menyesal membeli nomor 1 ini, soalnya nomor 2 dan selanjutnya belum terbit huaaa ... jadi lama deg-degannya ....


Semoga karya-karya komikus ini dapat dinikmati di seluruh dunia. Kualitas isinya dah top banget ini, ayo segera berpartisipasi di book Fair internasional (eh, udah atau belum ya?). Penerbit lain sudah panen international rights loh. Biar lebih banyak orang yang mau belajar lebih dalam, agar dituntun jadi lebih bijaksana sehingga tidak terjebak dalam perdebatan kusir berkepanjangan. Seperti yang dikatakan oleh salah satu ustad Indonesia yang kemarin juga kena penolakan, "tugas kami menyampaikan, syukur jika diterima, kalau tidak ya tidak boleh dipaksakan. Karena Islam tidak memaksa." 

Kamis, 27 April 2017

KAMYStory: Memelihara Binatang di Unit Apartemen




"Ami ... lihat niy" seru Safir saat baru keluar dari pintu kelasnya di Gen Cerdik. 
Saya melihat sebungkusan plastik bening dengan air ... Itu kaan ... 
"Aku dapat ikan." Safir menuntaskan kalimat di pikiran saya. 
Waduh, mau ditaruh di mana lagi nih ikan.

Ikan pertama yang didapat Safir

Rumah kami atau lebih tepatnya unit kami di Kalibata City memang sangat selektif memilih apa yang berhak menetap di dalamnya. Saking 'luasnya' kami memilih tidak memiliki sofa, rak terbuka, dan meja. Jadi ketika si anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara ini mengusung kantong ikan dengan hati gembira, saya gundah.

Bagi saya, memelihara binatang adalah sebuah komitmen. Seperti yang ditekankan ibu saya setiap kali mengingatkan anak-anaknya terkait keengganannya memelihara kucing yang senantiasa datang silih berganti ke rumah. "Kalau binatang itu mati karena kita lalai, kita berdosa."

Maka saya pun bergidik. Ikan bukanlah keahlian saya. Dan ikan, lebih mudah mati ketimbang kucing. Bagaimana kalau ikan itu mati?

Namun saya bergeming. Saya tempatkan ikan hasil 'tangkapan' Safir di toples bekas selai, dan terenyuh saat Safir tak henti-hentinya memandangi ikan itu. Dibawanya toples itu di samping kasurnya yang tanpa rangka agar bisa dipandangnya sebelum tidur.

Esok harinya saya belikan makanan ikan. Malamnya, ikan itu mati. Duka pertama untuk anak itu. 

Kenangan dan keinginan untuk memiliki ikan tak kunjung padam walau sudah berulangkali saya katakan bahwa kami tidak memiliki prasarana yang memadai untuk itu. 

"Tunggulah ... Nanti... kalau kita sudah punya rumah di tanah. Barulah kita pelihara binatang...."
Namun, entah karena tren atau apa, tanpa dibeli pun, Safir tetap saja mendapatkan kantung-kantung berisi ikan. Dan walau telah berganti-ganti wadah, ikan-ikan itu singkat saja usianya. 

Kemudian, hari itu datang. TK nya melakukan outbond dan Safir sudah melihat anak-anak dari TK lain menenteng ikan sebelum pulang. Rasa kasihan melanda saya,  dan memberinya izin membeli ikan cupang dengan anggapan, setidaknya daya tahan ikan itu lebih lama. Eh ternyata, menjelang naik bus, Safir diberi tanda mata ikan mas. Tiga ekor ikan sekaligus. Dan saya pun pusing. Apalagi si ikan mas ukurannya cukup besar. Saya lalu mengeluarkan satu-satunya toples kue kering.

Saya gelisah. Bagaimana caranya agar ikan-ikan dapat bertahan hidup? 

Kegelisahan saya baru sirna setelah dua hari. Ketika suami berkesempatan membawa anak laki-laki saya itu ke ACE Hardware. Berdua saja. Ah ya, terkadang saya lupa, ketika sedang galau soal aksesoris rumah, jawabannya hanya satu, datang saja ke ACE Hardware. Saya sering terkejut melihat alat yang saya pikir hanya dalam bayangan, ternyata sudah diciptakan. Seperti penyedia puzzle pelengkap di setiap gambar yang belum sempurna. Apalagi letaknya tak jauh dari Kalibata City, hanya satu kali angkot, 15 menit. Benar-benar helpful place bagi kami.

Salah satu hasil perburuan di ACE Hardware. 

Tak butuh waktu lama, kedua lelaki di rumah saya itu pun pulang membawa dua fish bowl dan alat pencipta gelembung dengan bangga. Memang si ikan mas tidak bertahan lama, karena sempat salah asuhan. Tetapi kemudian, kami segera membeli ikan pengganti dan bertahan hingga sekarang. Sudah hampir 4 bulan. Tiga ikan ini menjadi penghuni tambahan di rumah kami. Walau tak bisa dielus, walau tak diberi nama, semoga cukup nyaman ya 'rumahnya'. Apalagi ACE Hardware tengah bersiap membuka gerai di Kalibata City Square, so excited to wait till June 2017.



Jumat, 21 April 2017

JJS: 1 Ami dan 3 Anak di Big Bad Wolf Jakarta 2017


Kalau tidak dapat tiket VIP, ya ga datang.
Begitu saya membatin. Antara mau datang atau tidak. Maklum lokasinya jauh tenan, kayanya ongkos sama belanjaan bisa nyaris sama. Namun kurang dari seminggu dari acara preview Big Bad Wolf Jakarta 2017, saya mendapatkan email, tidak hanya satu tapi dua email yang menyatakan bahwa saya mendapatkan 1 tiket VIP. Artinya saya dapat 2 tiket yang berlaku masing-masing tiket untuk dua orang. Namun, karena teman-teman pecinta buku pun sudah dapat tiket VIP, jadilah hanya saya dan tiga anak yang meluncur ke ICE BSD City. 

1. Perbekalan
Saya menyadari bahwa biasanya di book fair semacam itu tidak boleh membawa makanan dan mnuman, jadi saya menghindari membawa berkotak-kotak fastfood untuk disantap. Jadi, saya siapkan bekal makanan berat di tas sekolah anak-anak agar mereka cukup diberi bekal untuk di perjalanan yang menurut google map akan tercapai dalam 1 jam 20 menit. Susu dan jus plus air mineral juga disediakan. Diumpet-umpetin sama tumpukan baju ganti, biar kalau diperiksa, ga ketahuan hehehe ... Strateginya  berhasil untuk anak 1 dan 2, sedangkan yang batita, terlewat jam makan siangnya dan akhirnya, muntaaah .... 


2. BSD itu Serpong ya ... Bukan Bintaro
Oke, ini mah sayanya aja yang dodol hehehe .... Pengemudi taksinya pun tidak mengerti bahasa Inggris. Saya bilang Ice BSD, dia pikirnya Ace B ... halah ... Dan karena ga nyambung inilah, taksi biru itu keluar di tol Bintaro. Dikasih google maps, ga paham. Gedubrak. 
Kenapa saya pilih taksi ketimbang taksi online? Yah, ga kenapa-napa sih, lebih gampang ketemu aja. Lagipula seringkali, anak-anak sok-sokan mau duduk di baris ke-3 tapi kemudian satu-satu balik ke baris tengah dengan muka pucat dan keluhan pusing ^^


Simak baik-baik aturan di BBW JAKARTA 2017 ya

3. Siang itu Jam Padat
Finally, kami sampai. Waktu menunjukkan pukul 1. BBW diselenggarakan di hall 7—10 Ice BSD City dan ada tiga acara yang digelar di Ice BSD. Saya sarankan, masuk ke hall 6 tempat Disney On Ice, jika menggunakan taksi online, karena pintu masuknya di hall 7. Kalau mengikuti marka jalan, kita akan berhenti di hall 10. 

Sesampai di sana, saya ambil tiket di stan Mandiri dan ternyata masih termasuk 25 orang pertama yang mendapatkan voucher RP50000,- untuk belanja di BBW. Alhamdulillah. Anggap aja diskon taksi offline hehehe

Lalu saya ambil lagi tiket di lobi BBW. Walau anak di bawah 12 tahun sebenarnya tidak pelu menggunakan tiket VIP pass, tapi ya saya tebus saja, siapa tahu dapat info (atau goodiebag) tambahan ^^

Setelah mengosongkan kantong kemih, waktunya anak-anak makan camilan sebelum masuk, sekalian melemaskan kaki setelah lama duduk di taksi. 


4. Baru berhenti Saat Keranjang Sudah Sering Jatuh
Begitu kami masuk, waaaah .... ini toh Big Bad Wolf. Rasanya ingin berenang-renang di antara buku-buku. Baru masuk, sudah menemukan yang menarik. Ada yang cemberut karena tidak langsung dapat yang disuka. Mereka bingung juga saat disuruh mencari buku tapi kenapa banyak sekali mejanya. Apalagi ketika saya beritahu bahwa buku anak yang terletak paling jauh dari pintu masuk itu, bermula dari belakang hingga ujung dekat kasir. Tapi senyum anak-anak merekah, ketika saya bilang, "Ambil saja mana yang suka, masukkan keranjang." Biarin deh, biar merasakan namanya belanja kalap. Tapi mereka yang dorong keranjangnya. 

Tadinya saya mau sok-sok an buka jastip buku, tapi ya ... yang datang ke preview itu banyak banget ya orangnya. Ini mah namanya curi start buka pameran hehehe .... orang lalu-lalang. Setiap kali saya memfoto buku untuk satu (ya, satu saja cukup) orang teman saya, saya pasti akan celingak celinguk menghitung anak. Yang di stroller juga dipastikan masih di tempatnya. Jangan sampai kalap buku, anak ga tahu nyantol di mana. 

Moral of tarik keranjang sendiri adalah, anak-anak itu jadi capek sendiri. Lelah, tak mau ambil buku lagi. Dan pada saat itulah, saya tanyakan kesungguhan mereka, mana yang lebih mereka pilih untuk dibeli. Tak lama, keranjang saya berkurang separuhnya. 

Awalnya saya menawarkan anak-anak untuk sekadar minum-minum di area makan di ujung lain dari kasir, tapi karena keranjang harus 'parkir' di dekat area bouncing (ya, ada tempat main di situ, seharga Rp60000 per orang) dan anak-anak jadinya malah mau main, saya pikir ah sudahlah langsung mengantri saja.

Penggila buku ya ketemunya di acara buku. Reuni singkat dengan Kak Aio


5. Ngantrinyaaa #auuwsome
Berdasarkan informasi dari tetangga yang sudah datang dari pagi, BBW yang juga disponsori sangat oleh Mandiri, menyediakan fastrack bagi pengguna mandiri debit atau kredit. Tapi ... ada caranya niy bapak-bapak, ibu-ibu ... Datangi stan mandiri yang terletak tidak jauh dari tempat antri, antri di sana untuk mendapatkan nota fast track dengan menukarkan poin fiesta Anda. Sebenarnya fiesta poin itu juga bisa digunakan untuk ditukar dengan buku-buku yang disediakan di stan Mandiri tersebut. Nah setelah dapat nota fasttrack, mengantrilah di tempat yang disediakan.

Kenyataannyaaaaa .... lorong fast track itu ga dijaga sehingga bercampurlah orang-orang antri di situ sehingga jadi puanjaaaaaang sekali. Banyak yang mengira bahwa mengantri di fastrack hanya cukup memiliki mandiri debit. Bukan oh bukan. Akhirnya saya stuck 2,5 jam ngantri. 

Saya teringat ibu-ibu hamil yang ketika sudah hampir mencapai lorong fast track barulah muncul petugas yang menanyakan apakah dia sudah memiliki nota fast track. Dilalah, ketika dia bilang tak punya dan hendak mengambil nota tersebut, layanan notanya sudah tutup. Ya ampuuun ... setelah dua jam ngantri tapi ga bisa masuk? 


Anak-anak? Hmm dari semangat maju sedikit demi sedikit. Lalu mulai usil masuk-masuk kolong meja. Nyanyi-nyanyi ga jelas. Saling bertengkar. Kelaparan, dan akhirnya saya keluarkan semua perbekalan di dalam tas. Suapin nasi, susu. Daripada jadi pada masuk angin. Karena AC  nya dingin juga loh walau dihuni begitu banyak orang. Cobaan banget niy buat anak n emaknya.

Cobaan tidak berhenti di situ. Setelah hampir sampai kasir setelah dua jam, anak-anak mulai mengeluh tidak senang, menganggap ini semua cobaan setan, meminta sesuatu yang ga jelas apa karena belum  bisa ngomong dan di antara keluhan itu ada yang pup aja gitu di popok ... Eeeaaa ... 

Walau kasir di depan mata saja, bisa lama loh ngantrinya. Ya, yang belanja bisa beberapa troli dan keranjang sekaligus, sedangkan kasirnya tuw kaya bagian kasir khusus layanan tunai dan keranjang. Ambil barang, ambil scanner, ketik spasi, taruh scanner, ah banyak geraknya. Plus jangan samakan dengan belanja bulanan ya, yang ada beberapa item yang sama. Kebanyakan dari belanjaan orang-orang yang beraneka ragam, jadi yah serasa manual lah. Belum lagi, sebentar-sebentar di sana –sini kasirnya melambaikan kartu SUPPORT. Komputer Error. Lelah menerima terlalu banyak uang hehehe ... 


6. Kamar Ganti Bayinya Mana? 
Alhamdulillah kelar juga bayar membayar. Alhamdulillah juga bawa stroller, belanjaan tinggal dicantel. Walau ada yang menyewakan sih troli gede dan ada porternya segala loh. Lalu ada juga layanan TIKI, yang habis belanja tinggal kirim, ga perlu tenteng-tenteng lagi. 

Tapi yang terpenting saat ini adalah toilet lagiii .... Si kakak kebelet pipis, yang anak tengah juga tapi begitu lihat antrian dan kenyataan bahwa anak cowo satu-satunya itu harus buang air kecil di kamar mandi wanita membuat dia urung. Jadi saya suruh si kakak antri dan urus sendiri sementara itu saya di luar ruang toilet mengganti popok di bungsu. Sambil ngumpet-ngumpet di balik stroller. Untung pup nya mudah dibersihkan (dengan menggunakan banyak sekali tisu basah ^^'). Si anak tengah saya minta memberi info kalau-kalau kakaknya sudah masuk toilet, karena sistem  toiletnya yang diputar keluar semprotan langsung ke arah ybsitu loh. Buat anak-anak kan suka ga pas ya. Jadi seusai urusan popok, saya langsung cari si sulung yang ternyata baru masuk dan akhirnya bisa bantu, sementara anak tengah jaga adiknya di stroller di salah satu pojokan toilet (ribet ya bok!). Si tengah kemudian saya paksa juga buang air kecil, di situ, Cuma yah basahin tisu deh. Daripada nyemprot ke muka ... Hadeuh, pe er banget ya nyediain toilet untuk anak-anak. 


7. Makan Malam Sekadarnya
Perjalanan pulang masih jauh, jadi saya pikir mau makan dulu. Tapi stan makanan di area lobi itu Cuma satu, So Nice. Begitu juga stan minuman. Ya sudahlah, daripada ga makan. Walau kayanya tema hari ini sosis dari pagi sampai malam hehehe .... Dan anak-anak on lagi. Jumpalitan ke  sana kemari. Sayanya? Lelaaah. 

BBW juga bekerja sama dengan Grab, jadi ga usah khawatir pulang ya. Tapi semalam saya naik taksi offline lagi, karena sempat ga ada yang mau ambil order saya. Begitu saya masuk taksi eh malah ditelepon sama driver Grab. Lah, ternyata belum tuntas saya cancel-nya. 


8. Kapok? 
Tahun ini, cukup ya ke BBW nya hehehe ... Nabung lagi untuk tahun depan. Memang sih ngantrinya bikin kapok, tapi buku yang didapat memang sesuai bayangan saya. Yang terjangkau, interaktif untuk anak-anak, dan unik buat kado hehehe dan selalu ada koleksi klasik yang memanggil-manggil saya untuk dibeli hihihi ... Percaya atau tidak, saya hanya beli koleksi Enyd Blyton untuk diri saya sendiri. Novel ga dilirik dulu, padahal banyak edisi boxset yang harganya waw murah banget. 

Next year, ke BBW nya sama orang dewasa aja deh. Biar begitu masuk langsung ada yang ngantri hhehe tinggal saya lari-lari cari buku.