Minggu, 21 Juni 2015

Menangkap Penjahat Bareng Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station di Kidzania

“Kai. Selamat malam di Kidzania. Berita hari ini seorang penjahat tengah berkeliaran di kota Kidzania. Para warga diharap tetap tenang. Sekian berita singkat dari ruang studio kami. Selamat malam.”


Warga Kidzania sedang ketakutan karena ada seorang penjahat berkeliaran. Mereka semua khawatir akan keamanan kota Kidzania. Lalu muncul berita gembira. Pada 3 Juni lalu ada pembukaan establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station. Dengan dibukanya kerjasama antara Larutan Cap Kaki Tiga Anak dan Kidzania ini maka anak-anak yang berusia 6 tahun ke atas akan mendapat pendidikan tentang bagaimana menjadi polisi yang baik dan peduli pada sekitarnya. Tak hanya itu, menjadi polisi di dunia Kidzania berarti berperan mengembangkan logika berpikir anak karena harus mengumpulkan clue, menganalisa dan menyimpulkan lokasi penjahat untuk kemudian menangkapnya. Begitu penegasan dari General Manager Kidzania Maya Kenova.





Dengan berkelompok atas 8 orang dan satu fasilitator, para polisi cilik ini akan mengitari kota Kidzania mencari penjahat sesuai petunjuk yang ada. Benar saja, dalam waktu 20 menit waktu kota Kidzania, penjahat itu akhirnya tertangkap dan diadili  lalu dimasukkan ke dalam penjara. Salut untuk para polisi cilik, tentu ini merupakan sebuah kerja keras, oleh sebab itu Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station ini menghadiahkan sekaleng minuman pereda panas dalam ini bagi masing-masing anggota polisi. Larutan Cap Kaki Tiga Anak adalah minuman yang berbahan alami dan tanpa bahan pengawet. “ Karena kami percaya anak yang sehat akan menjadi anak yang sehat dan kreatif,” begitu pernyataan Bapak Deny Cahyo selaku General Manager Marketing PT. KINO INDONESIA.





Pembukaan establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station ini berlangsung meriah karena juga ada ambassador Kidzania, Umi Pipik yang ternyata juga merupakan konsumen setia Larutan Cap Kaki Tiga Anak ini. Tak hanya itu, berkat para anggota kepolisian baru ini, para peserta lomba mewarnai pun bisa merasa tenang menjalani perlombaan karena tidak akan ada yang hendak mencuri hadiahnya. Bagi yang belum cukup umur menjadi polisi di kota Kidzania, pada acara pembukaan mendapat kesempatan mendapatkan goodie bag dari Cap Kaki Tiga Anak jika mengikuti kontes selfie dengan bannernya.




Jadi, kapan kamu ke Kidzania? Yuk jadi polisi bersama Larutan Cap Kaki Tiga Anak.

Rabu, 17 Juni 2015

RABUku: Perpustakaan Pertama Bagi Mereka

Masih lekat di ingatan saya ketika itu saya berjalan di antara dua rak tinggi berisi penuh buku. Saat itu saya merasa berada di surga buku. Padahal saya kecil sedang berada di perpustakaan Erasmus Huis. Ingatan itu menjadi salah satu rangkaian kecintaan saya terhadap buku.

Dan ketika Malika cs berulangkali meminta ke toko buku setiap kali pulang pengajian, dan hanya untuk membaca buku, saya lama-lama jengah juga.

“Kalau mau baca buku itu ke perpustakaan, bukan ke toko buku. Ke toko buku ya buat beli buku.” Begitu jawab saya berulangkali pula.

Maklum toko buku hanya perlu berjalan kaki sedikit di Kalibata City, itu pun tak lengkap koleksinya. Kurang banget malah.

Saya memutar otak kala itu, mau dibawa ke perpustakaan mana ya? Kan niy bocah-bocah petakilan, sedangkan perpustakaan harus sunyi dan tenang. Ya kalau mau ngajarin kan lebih baik di tempat praktiknya, bukan?

Lalu kemudian Allah seolah menjawab kegalauan saya. Sebuah share tentang perpustakaan baru di kawasan Taman Ismail Marzuki. Benar-benar menggoda. Ada tempat bermainnya pula, waaah .... Tidak hanya share yang Allah tunjukkan, tempat berkegiatannya anak-anak alias Gen Cerdik pun menjadwalkan kunjungan ke Perpustakaan Daerah itu sebagai salah satu rangkaian ke Planetarium. Horeeee bisa nebeng kegiatan, maklum perpustakaan ini hanya buka di hari kerja yang saya duga karena kekurangan pegawai.

Dan tibalah kami di sana pada 10 Juni lalu. Malika khawatir karena hasratnya ingin bermain-main tetapi sudah diingatkan oleh saya bahwa di perpustakaan itu harus tenang. Setelah menitipkan KTP dan mendapat kunci loker, kami naik ke lantai dua. Begitu pintu lift terbuka, anak-anak langsung ke arah kanan karena di sana ada pintu kaca menuju sebuah ruangan luas  dan ujung sana ada tempat bermain. Saat menuju tempat bermainnya pun mereka mendapat sensasi sendiri. Lantai yang didekorasi menjadi peta Indonesia itu ditempeli kerikil kecil sehingga seperti spot pijat bagi saya hehehe ...



“Amy, gimana nih. Kan kalau main harus teriak-teriak!” kata Malika kebelet.
“Ya sudah, tapi nanti kalau sudah di tempat buku-buku ga teriak-teriak ya.”


Dan werrrr langsing ngacir dua bocah itu. Padahal ya ketemunya perosotan ma mandi bola lagi. Cuma agak lain niy perosotannya, terdiri dari pipa-pipa besi warna warni jadi merosotnya lucu agak jeglek-jeglek.



Saya tidak berlama-lama di sana, panas. Tempat bermain itu semi outdoor. Selain tempat bermain seperti perosotan, ada juga mobil-mobilan yang pasti ga bakal ada akinya karena sejak pagi planetarium ini sudah penuh dengan kunjungan anak-anak sekolah. Lalu ada rak panjang berisi mainan-mainan edukasi dari kayu.



Saya masuk ke ruang perpustakaannya karena di sana sedang ada acara mendongeng. Salah satu rutinnya pegawai perpustakaan sepertinya. Anak-anak yang tinggal di sekitar TIM juga terlihat antusias datang ke perpustakaan dan mendengarkan dongeng.



Namun, yang bikin saya miris adalah ketika melongok ke bagian bermain di ruangan itu juga. Ruangan yang penuh dengan mainan edukasi itu terlihat seperti habis diterjang bom. Totally chaos. Inilah akibat euforia keganasan bin lebay ketemu mainan. Para pegawai perpustakaan pun tak sanggup berbuat apa-apa karena memang ramai sekali seharian itu. Dasar emak-emak, saya pindahkan saja yang tajam-tajam. Tak sanggup beresin semuaya karena akan ada anak-anak lain yang datang dan oprek-oprek.


Totally Chaos


Sebenarnya konsepnya sudah tepat. Mereka yang masih kebanyakan energi sebaiknya dialihkan ke tempat bermain yang lebih fisik. Ketika sudah lelah barulah perlahan-lahan merapat ke bagian perpustakaan sehingga mereka juga  tidak telampau kreatif mengolah mainan edukasi tersebut dan kemudian meninggalkannya begitu saja karena teralih mainan yang lain.



ada tindakan anarki

Saya lihatnya sih begitu. Belum lagi jika para pengunjung wisata sekolah juga datang ke sini itu berarti penuh banget dan biasanya mereka ga diberi waktu untuk berbenah melainkan langsung pulang. Dan not to mention, para individu yang memiliki mental, “ah, bukan rumah gue ini.” “ah, kan ada pegawainya, ya itulah tugasnya.”

Tapi bagi saya yang datang di pengujung bukanya perpustakaan ini, saya jadi kasihan sama pegawainya. I feel you .... Berantakannya rada mirip dengan di rumah, hanya yang ini puluhan kali lebih berantakan.

Tadinya saya mau ajak Malika dan Safir berberes, mereka tiba-tiba sudah ngejogrok di rak-rak mainan edukasi, eh tak tahunya tanpa disuruh mereka masukkan lagi mainan yang mereka mainkan sebelumnya. Ya sudslah, tumben hahahaha kalau di rumah kok ya harus disuruh melulu?



Lima belas menit menjelang tutup saya suruh Malika cs ke area buku. Masa ke perpustakaan ga baca buku? Ya, sibuklah mereka memilih-milih buku, untung dah mau tutup, bisa gempor tenggorokan Amynya.



Ketika hendak pulang, Malika berkata, “Amy, kita ke sini saja terus.”

Ah, ya, nanti yaaah .... Pegel juga ke sini bawa anak tiga biji ^^’ Naik kereta, ngerepotin orang. Naik taksi, mihil ajjah. Tapi karena perpustakaan ini  masih gratis, pas banget kalau datang dari pagi trus seharian nongkrong aja di sana hehehe .... Ayo ke perpustakaan ... Malu atuh nongkrong baca di toko buku.


Selasa, 16 Juni 2015

Project “A” dari MADE BIGBANG: TOP Joget Lagi ^^


Awal Juni ini, sesuai janjinya BIGBANG mengeluarkan single lagi dalam rangkaian kedua project “MADE” dengan BANG BANG BANG dan We Like 2 Party. Setelah sebelumnya merajai tangga lagu dengan project “M”, yaitu Loser dan Bae Bae, saya sempat khawatir single selanjutnya akan mencapai klimaks. Biasa deh, pertama kali lihat MV BANG BANG BANG di youtube, lagu yang irama diskonya lebih terasa ketimbang lagu-lagu sebelumnya ini sebenarnya sangat adiktif. Dengan nuansa hitam, saya seperti melihat MV-nya 2Ne1 versi cowok, apalagi dengan adegan masing-masing personil menaiki moge yang diam di atas lantai yang berputar. Pada bagian akhir, seluruh personil BIGBANG nge-dance bareng yang saya komentari saat itu, “Gerakan senam aerobik. Mungkin untuk menyeimbangi TOP.”



VIP pasti tahu kalau soal dance TOP yang paling kaku. Dan seiring dengan semakin berumurnya mereka, sudah bukan trainee lagi, dan sudah menjadi lumbung uang bagi YG Entertainment, saya pikir pihak produsen agak lunak terkait ketentuan dance ini. Lihat saja di MV Bad Boy dan Fantastic Baby di album terdahulu, gerakannya santai saja, jadi TOP tidak perlu kerja keras. Eh, tapi saya kaget melihat video latihan dance mereka. Saya memang menghindari melihat versi show Bigbang karena tidak mau jenuh jikalau nanti nonton konser mereka (aduuuuh masih galau mau nonton atau tidak), tapi begitu lihat ini saya jadi gimanaaaa gitu, TOP joget lagiiii!!!



Bukan joget ringan, karena di MV-nya yang melakukan itu hanya Taeyang. Dan melihat latihannya dia pasti kerja keras banget (sok akrab gitu gue). And he did it! Iiiih jadi gemes. Ini pasti bikin air mata derai-derai sambil jejeritan kalau lihat langsung di panggung konser.

Waduh, pokoke ga boleh nonton, walau bakal penasaran banget (menyanyikan lagu Let It Go lagiiii .... ) Ok, berhubung mau puasa biarkan saya puas-puasin ngomongin BIGBANG biar lega semuanya dan bisa beribadah dengan khusyuk bareng keluarga.

Single kedua di project “A” ini adalah We Like 2 Party. Lagi-lagi saya telat tahunya. Baru tahu ketika melihat komentar netizen terkait KBS yang melarang penayangan MV We Like 2 Party. KBS ini memang terkenal gemar nge-banned banyak MV korea. Badan sensornya ketat, walau sempat diprotes karena menayangkan payudara gadis di bawah umur dalam acara medis tanpa sensor setitik pun. Nah, balik ke single ke dua ini. Walau belum baca sumber berita yang memuat alasan KBS melarang penayangannya ini, saya asumsikan sih karena di situ memperlihatkan tim BIGBANG sedang bersenang-senang bersama dengan begitu banyak botol miras bertebaran di meja hingga lantai. Lucunya, awal adegan MV We Like 2 Party ini memperlihatkan GD sedang menaiki kereta bawah tanah umum. Berita tentang GD ketangkap kamera fans saat menaiki transportasi publik sempat dibahas sebelum single ini keluar. Eh, rupanya bagian dari promo. Hehehe, bisaan aja. Padahal sempat kebayang sebelahan sama TOP di CL  Jakarta (eeaaa). 



Anyway lagu ini terdengar enteng sekali. Cocok kalau dipasang di jalan tol kalau mau liburan. Nuansanya kaya adegan pertama di MV My Heaven, naik mobil bareng-bareng. TOP di MV ini juga terlihat bersenang-senang, walau agak ngeri kalau dia memang seedan itu kalau sedang mabuk. Toh, dia tetap tidak meninggalkan ciri khasnya, antibugil. Ketika semua temannya sudah loncat ke kolam renang dengan celana pendek, TOP ikut nyebur tapi berpakaian lengkap plus baju handuknya. Oalah, berat atuh Dik Mas .... ^^’


These two are seriously making me curious even more for the next video on project “D” yang bikin SBS nge-banned BIGBANG untuk tampil di Inkigayo selanjutnya (whaaat?!!) and especially “E” because it will show up a moment before their concert on August 1st in BSD.  Hadoooh, jangan nonton, jangan nontoooon .... 


catatan: semua video milik YG Entertainment yaaaa ... 

Sabtu, 13 Juni 2015

Ibu Percaya Diri, Keluarga Bahagia

Ketika hamil anak ketiga, saya dilanda ketidakpercayaan diri. Berulang kali saya berniat mempertanyakan alasan Tuhan membuat saya hamil lagi padahal saya masih jauh dari kategori orangtua yang baik. Dan isu percaya diri ini sempat menjadi subjek utama kala saya mengalami early baby blues.

Undangan bagi para ibu-ibu blogger ke acara parenting class yang bertempat di Hongkong Cafe, pada 30 Mei lalu ini pun saya ambil dengan suka cita. Saya perlu mengosongkan gelas. Jumlah anak seringkali tidak menunjukkan kemahiran orangtua dalam mengurusnya. Walau bisa dikatakan, saya sudah khatam dengan ilmu parenting. Pada akhirnya, praktiknya tidak pernah mudah.

Bertajuk “Happy Mommy, Healthy Baby”, acara ini secara garis besar mengangkat tema kepercayaan diri. Saya membawa si bayi dan meninggalkan dua anak lainnya bersama ayahnya. Yah, anggaplah me time.

Acara yang dihelat mommiesdaily.com bekerja sama dengan Transpulmin Baby Balsam dan Kamillosan ini, diawali dengan presentasi dari psikolog Anna Surti Ariani S. Psi., M. Psi., Psi. Dengan mengangkat subjek “Ibu Percaya Diri, Keluarga Bahagia”, psikolog Anna hendak menunjukkan bahwa kepercayaan diri seorang ibu atau ayah memang memiliki dampak langsung atas terbentuknya keluarga yang bahagia. Seorang ibu yang mengalami depresi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan psikologis. 


Dengan mengutip Van Leon, dkk (2013), seperti ini:
Orangtua yang mengalami depresi -> kurang memonitori anak -> anak remaja alami gangguan psikis

Walau toh psikolog Anna juga menyatakan bahwa orangtua yang tidak percaya diri tidak serta merta membentuk anak yang tidak bahagia. Kenapa bisa begitu? Karena ada juga orangtua yang walau tidak percaya diri namun tetap berusaha keras membahagiakan keluarganya. Yah seperti pohon dengan dedaunan yang rimbun tapi akarnya keropos dengan cepat.

Kunci dari sebuah kepercayaan diri ada tiga langkah; kenali karakter positif saya, yakini karakter positif tersebut, lalu jalani. Contohnya; pada suatu hari kita terkejut, “Eh, ternyata saya bisa sabar ya.” Langkah selanjutnya katakan, “Saya memang penyabar, kok” dan kemudian “saya akan terus bersikap sabar”. Gampang, kan. (LOL)

But don’t worry, bahkan seorang psikolog pun memaklumi bahwa ada kalanya seseorang mengalami naik turun emosi. Yang penting selanjutnya adalah kembali ke jalan yang benar, secepatnya. Pikirkan bahwa kebahagiaan anak-anak bergantung dengan cara saya mengatur emosi.

Ada pun ciri-ciri bahwa kita mengalami depresi adalah ketika ada rutinitas yang berbeda, misal menjadi sulit makan atau bahkan terus-menerus makan. Jadi jika Anda melihat diri Anda atau orang-orang di sekitar Anda menunjukkan gejala-gejala seperti ini, itu berarti orang tersebut butuh pertolongan.

Ada satu sesi menarik di acara ini, saat itu psikolog Anna meminta kita menuliskan 2-3 karakter positif yang sejatinya ada pada diri orangtua, menurut kita. Setelah menuliskan kata “sabar”, “kreatif” dan “hangat” di sebuah kartu yang bergambar manis, kami diminta mengumpulkannya lalu kemudian kartu tersebut diambil lagi secara acak.


“Tidak ada yang namanya kebetulan.” Kata psikolog Anna. “Yang Anda dapatkan adalah karakter positif Anda yang belum Anda ketahui atau mungkin sudah Anda lupakan.”

Dan saya dapat apa? “Menjadi pendengar yang baik bagi anak” dan “Menjadi fans no. 1 bagi anak” Hmmm .... Actually, saya agak-agak berair mata ini saat membaca tulisan ini tapi saya tidak yakin sudah melakukan kedua hal ini atau belum.


“Masih ada kejutan lagi,” seru psikolog Anna. Nah loh. “Rogoh bagian bawah kursi yang Anda duduki, di sana ada gulungan kertas bertuliskan karakter positif. Ingat, tidak ada yang kebetulan.”

Nah, di sini baru lucu. Tebak saya dapat apa? “Rapi” Doeeeng ... ketahuan sama kakak-kakak saya mah pada senang mereka.



 Setelah ditutup dengan cara yang menyegarkan, dr. Elizabeth Yohmi Sp. A sekaligus Ketua SATGAS ASI IDAI memberikan pandangan tentang kaitan ASI dengan kesehatan bayi. Pun pembahasan ini terkait dengan kepercayaan diri seorang ibu. Tentu banyak informasi yang bertebaran bahwa kebanyakan kasus ASI kurang disebabkan oleh kurangnya ilmu tentang ASI dan kepercayaan diri si ibu. Informasi yang dipaparkan oleh dr. Elizabeth lebih banyak mengulik rasa ingin tahu para peserta. Dr. Elizabeth menekankan bahwa proses Inisiasi Menyusui Dini adalah langkah awal kesehatan bayi. Toh, beliau juga menyatakan bahwa tidak ada yang namanya IMD gagal.

Kebanyakan para ibu yang baru saja melahirkan melorot kepercayaan dirinya saat mengetahui jumlah ASI-nya ‘sedikit. Padahal lambung bayi yang baru lahir hanya sebesar kelereng dan bayi dapat bertahan selama empat hari tanpa ASI, jika si ibu mengalami kesulitan mengeluarkan ASI. Hal ini pernah saya alami pada anak pertama. Maklum, namanya anak pertama. Ibu saya terus menceritakan bahwa abang sulung saya minum 100 cc ASI begitu baru lahir, jadi ketika beliau lihat ASI saya hanya mengotori dasar botol, saya langsung dianggap memiliki ASI kurang. Sempat hendak memberi susu formula tapi syukurlah anak saya tidak suka dan benar saja di hari keempat dengan berbagai usaha, anak saya bisa menyusu dengan benar.


Itulah mengapa sangat disarankan untuk mendatangi klinik laktasi dari sebelum melahirkan. Kondisi tubuh yang lelah akibat melahirkan, justru membuat ibu baru merasa kehilangan fokus dan kemudian kepercayaan diri. Pengetahuan sejak dini tentang ASI akan mengatasi hal itu.

Menyusui pun ada tekniknya, pelekatan yang tepat akan mengoptimalkan jumlah ASI yang keluar. Kasus bayi rewel saat atau sesudah menyusui bisa jadi disebabkan oleh posisi mulut bayi yang tidak tepat. Pelekatan yang tepat adalah ketika si bayi  juga turut menghisap aveola atau daerah sekitar puting, jadi tidak hanya puting yang masuk ke mulut. Salah pelekatan juga bisa menyebabkan lecet pada puting. Nah, ini yang saya alami pada anak ketiga. Siapa bilang saya sudah lulus menyusui? Hehehehe ...

Saya merasa tersentil ketika dr. Elizabeth menjelaskan tentang tata tertib menyusui. Menyusui sejatinya sebagai pererat hubungan antara ibu dan anak oleh sebab itu, jangan menyusui anak sambil main ponsel (jiaaah ini anak kedua banget). Saat menyusui adalah waktunya memaksimalkan kelima panca indera anak. Belaian, pijatan, tatapan, percakapan atau nyanyian adalah yang semestinya kita lakukan saat menyusui. Tapi gimana dook, dia nyusunya lama bingiiiit kan pegal. (alesaaaaan aja gue).

Saya rasa penjelasan dr. Elizabeth ini cukup ramah, mengingat beberapa waktu sebelum acara ini mulai ramai lagi mom war terkait ASI dan konsumsi susu sapi. Padahal sebagai penyandang jabatan Ketua SATGAS ASI, saya sudah khawatir bakal mendengar doktrin-doktrin ekstrem. Eh, ternyata tidak.


Walau saya tidak mengikuti games dan makan siangnya karena suami harus segera meninggalkan anak-anak di rumah demi urusan pekerjaan, saya yakin sudah mengantungi lebih banyak ilmu hari ini dari yang saya dapatkan kemarin. Kiddos, here I come. Thank you, mommies daily. 

Untuk info lebih lanjut tentang Transpulmin Baby Balsam dan Kamillosan silahkan ke:
www.facebook.com/KehangatanIbu atau di twitter @KehangatanIbu
 

Minggu, 07 Juni 2015

Makan Mi Tropicana Slim Tak Pakai Nelongso


“Ayah enak banget, kalau di kantor sering makan mie.” Begitu protes anak-anak saya ketika mengetahui bahwa ayahnya sudah makan mi sebelum tiba di rumah.

Enak? Saya menyengir getir saja mendengarnya.

Setiap kali saya mengeluarkan mi instan, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saya merasa gagal. Masa sudah dengan gagah berani memutuskan jadi ibu rumah tangga akhirnya mengeluarkan mi instan untuk dimakan anak-anaknya? Walau sisi lain dari diri saya akan membela, “tapi ga sering kok, paling seminggu sekali. Cheat day dan takaran bumbunya dibatasi.”

Bumbu yang terdapat pada mi instan seringkali terlalu gurih sedangkan masakan harian saya masih cenderung tawar. Makanya, persediaan mi instan di rumah sejatinya untuk suami. Hehehe ... sangat berguna ketika saya hamil dan badannya selalu lemas. Ketika uang suami sudah terbatas untuk terus-menerus beli makan malam di luar, maka mi instanlah yang dia masak. Dengan rasa nelongso. Sudah cape seharian bekerja eh di rumah makan mi instan. I feel you, suami.

Tapi sejak saya menemukan mi  Tropicana Slim di rak supermarket, saya jadi ada harapan. Untuk tidak merasa nelongso setiap kali memakan mi instan.

Rasa roasted duck adalah yang paling menarik perhatian saya selain rasa ayam bakar yang dikeluarkan mi Tropicana Slim. Dari gambarnya terlihat bentuk mie-nya pun berbeda. Saya pun punya ide untuk sedikit meningkatkan tampilan sajian mi instan. Yah, bukan rahasia umum kalau sebagian besar dari kita jarang menerapkan tampilan sajian yang disarankan seperti terlihat di bungkusnya. Harapan saya pun meningkat ketika mengeluarkan mi  dari bungkusnya, ternyata masih ada wadah tambahan di dalamnya.



Mi  Tropicana Slim itu sendiri dibuat dengan cara dipanggang sehingga kandungan lemaknya tidak sebanyak mi instan lokal, plus kandungan garam di bumbunya pun lebih sedikit dari mi instan biasa. Jadi saya tidak perlu membuang separuh bumbu lagi dong.

Demi mendukung niat produsen mi  Tropicana Slim sebagai mi dengan kadar lemak rendah, saya ya ga mungkin dong menaruh tambahan yang digoreng. Jadi saya buatlah telur ala egg benedict (agak kematangan kayanya hehehe) dan seperti popeye, saya tambahkan bayam. Apa pun makanannya harus ada serat. Dan setelah berulang kali anak-anak bolak-balik di sekitar kompor, Voila. Jadi deh.





“Mi koreaa!” teriak anak-anak saya. Melihat tampilan mi yang berbeda sepertinya mereka ingat mi yang diam-diam saya makan di tengah malam hahaha ... Padahal kandungan kalori mi korea masih lebih besar ketimbang mi  Tropicana Slim. Ya, sudahlah biar mereka menikmati kelebayan mereka. Saya anggap sebagai pujian.


Lha, itu piring siapa yang diembat?


Sepertinya akan menjadi partner yang dapat diandalkan saat bulan puasa nanti. Entah kenapa, pasti ada setidaknya satu hari di bulan ramadhan ketika kami akan bangun terburu-buru dan belum ada apa pun yang tersedia di meja. Kalau ada mi  Tropicana Slim ga akan ada lagi tuh episode nelongso di bulan puasa karena hanya sahur dengan mi instan. Yuk, semangat semangaaat!!!


Selamat mencoba. 

Sabtu, 06 Juni 2015

6 Karakter Ibu di Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge


Ibu rumah tangga mubazir pakai smartphone keren? Ah, kata siapa? Perempuan lebih khususnya ibu rumah tangga dengan peran yang sifatnya multitask, justru lebih perlu smartphone keren. Apalagi buatan Samsung, kan jadi sama dengan aktris-aktris yang ada di drama Korea langganan ibu-ibu (eh?). Nah, apalagi ketemu ponsel terbaik yang sesuai banget dengan karakter ibu-ibu seperti saya. Ga percaya? Sok atuh, lanjut bacanya :P

foto dari www.samsung.com/id

1.       Cantik dan Kuat
Kecantikan dan kekuatan berada dalam satu paket kewanitaan. Mau bagaimana pun komposisi tubuh seorang ibu, ia selalu menjadi yang tercantik di mata keluarga yang mencintainya (ya, gak suami?). Seorang ibu harus tahan banting, karena ialah yang paling dituntut tidak boleh sakit. Bukan karena takut tidak ada yang mengurus dirinya, melainkan ia khawatir siapa yang nanti akan mengurus keluarganya.


Begitu juga dengan Samsung Galaxy S6, kini casingnya sudah menggunakan besi, jadi ga perlu khawatir lagi kalau si kecil mendadak terlalu kreatif saat memegang gadget ini. Lapisan kaca di layarnya membuatnya terlihat flawless. Sedangkan layar Samsung Galaxy S6 Edge melengkung hingga memberikan dimensi baru dalam bermultimedia. Pilihan casingnya ada tiga, hitam, putih, dan gold (Syahrini mode on).


foto dari www.samsung.com/id


2.       Energi yang (Seolah) Tiada Habisnya 
Sebuah rumah membutuhkan energi luar dalam dari seorang ibu, entah itu energi fisik hingga energi emosional. Kerinduan para ibu akan pijatan dan penjual voucher sabar yang tak pernah kunjung datang, semakin menguras energi yang tersisa. Makanya perlu trik tersendiri untuk memperluas sabar dan mempercepat pengisiannya kembali. Kaya Samsung Galaxy S6.

foto dari www.samsung.com/id


Di tengah pekerjaan rumah tangga yang tiada kunjung usai, ponsel jadi sering lupa di-charge. Dan kemudian keki kalau lokasi yang dituju ga ada colokan. Dengan menggunakan Samsung Galaxy S6 atau S6 Edge, sesaat sebelum berangkat colok dulu, lalu nyapu-nyapu sebentar (haiyah), 10 menit kemudian ponsel ini bisa deh dicabut, lalu capsus dengan tenang karena bisa dipakai selama empat jam! Keren, ga tuh!


3.       Dapat Diandalkan Kapan Pun, di Mana Pun
Seorang anak lebih sering memanggil ibunya ketimbang ayahnya, itu sering terjadi. Mulai dari urusan sandang (minta menyusu hingga minta cebokin) hingga urusan bantuin prakarya sekolah. Menjahitkan kancing yang lepas hingga memperbaiki mainan (mainan zaman sekarang makin ribet, yak). Suami? Bahkan urusan cari kaos kaki saja harus panggil istri hehehe Dan dialah yang paling nelongso ketika saya pergi, apalagi kalau meninggalkan dirinya hanya dengan ketiga anak saya hahahah pasti ga boleh pergi. Singkat kata, seorang ibu senantiasa dituntut bisa diandalkan setiap saat.


Itulah sifat kamera Samsung Galaxy S6. Walau belum setajam mata hati tapi dengan kamera 16 MP, ibu-ibu seperti saya yang selalu membawa bocah-bocah ke berbagai kegiatan sehingga ga selalu bisa dalam keadaan layak memotret (maklum, bisa jadi mata saya pun tengah jereng mencari lokasi anak-anak saya) jadi bisa mengabadikan momen setara fotografer, dengan satu tangan (karena tangan satunya sedang gendong bayi :p). Dan saya ibu rumah tangga yang perlu kamera ponsel terbaik. Buat apa? Ya, buat jualan lah. Kan istri solehah :D. Dan zaman sekarang jualan ga cukup hanya dengan foto, lebih cihuy kalau ada videonya. Nah, kalau foto atau videonya bagus kan kredibilitas saya turut meningkat. Dengan teknologi layar Super AMOLED 5.1” Quad HD (2560 x 1440) yang dimiliki Samsung Galaxy S6, saya jadi bisa menggunakan kamera dengan visual yang tajam dan layar adaptifnya memungkinkan saya mendapatkan gambar luar biasa dalam kondisi apa pun, gelap ataupun terang. Benar-benar bisa diandalkan kapan pun.




Ket. Foto: Kamera selfie juga besar, 5 MP. Setara dengan kualitas kamera utama Galaxy S5, lho. 


4.       Performa Tangguh, Efisiensi Energi nomor 1
Efisiensi adalah PR besar para ibu. Maklum, kami adalah makhluk multitasking. Dengan status baru punya anak ketiga dan masih ga mau pakai ART, tetapi masih mau nulis dan kembali berkawan dengan mikser, banyak yang bertanya pada saya, “Kok sempet-sempetnya?” Padahal yang bertanya juga tidak kalah sibuknya loh.


Moto saya adalah mengerjakan lebih banyak hal hari ini ketimbang kemarin. Caranya? Terserah Anda.


Begitu juga dengan Samsung Galaxy S6, para ahli di bagian produksi ponsel Samsung juga menunjukkan kian hari keluaran Samsung akan semakin canggih. Terbukti dengan layar Arsitektur 64-bit, LPDDR4 dan GPU canggih produk teknologi asal Korea ini semakin menunjukkan bahwa ialah smartphone dengan prosesor tercepat. Ponsel ini memungkinkan untuk multitasking dan multimedia secara cepat, akurat, dan kuat. Maklum, ibu-ibu perlu ponsel yang tangguh untuk menampung chattingan di grup WA, multimedia untuk game edukasi anak, donlotan video musik BIGBANG (eh?), dan banyak lagi.



Oia, ada juga aplikasi SMART MANAGER yang menunjukkan status baterai, penyimpanan, RAM dan lain-lain dalam satu layar mudah. Praktis, kan?


5.       Aman
Ibu adalah tempat nyaman pertama bagi anak. Mulai dari kandungan, seorang anak sudah mengenal arti nyaman. Kehangatan pelukan ibu memaknai bahwa seorang anak akan selalu merasa aman. Dan saya kini juga merasa aman saat khilaf meninggalkan ponsel di tempat yang terjangkau anak. Teknologi sidik jari memungkinkan Samsung Galaxy S6 hanya dapat digunakan oleh pemiliknya. Aih, kaya mesin absen.


6.       Senang Promo dan Hadiah
Wanita mana yang tidak suka promo apalagi ada hadiahnya? Butuh ga butuh pasti nanti ada butuhnya kok. Percaya deh, para suami. Nah sampai tanggal 7 Juni ini, Samsung Galaxy S6 ada penawaran khusus setiap pembelian Samsung Galaxy S6 akan mendapatkan cover original dengan berbagai pilihan warna. Produk ini seharga Rp600.000,- lho. Hampir 10% dari harga ponselnya. Ga tahu ya, mungkin saya agak kuper tapi covernya ini langsung terhubung dengan ponsel sehingga ketika ditutup otomatis ponselnya standby. Nah, tinggal dua hari lagi ini. Yuk, ah cus ke counter Samsung. Samperin pegawai yang berbaju hitam dan bertuliskan “Ask Me about S6”, pasti jadi ingin beli deh.


Atau kalau sudah terlewat, ya ikutan lomba blognya saja. Bisa dapat Samsung Galaxy S6 lho!




Catatan untuk suami (saya): Ehem, bulan ini aku ulang tahun loh. Masih ingat, kaaan? *kedip2 mesra.


Rabu, 03 Juni 2015

RABUku: Bliss The Bliss Bakery Trilogy #1



foto ini diambil dari www.mizanstore.com

Rose selalu terbangun di tengah malam dan kemudian mengendap-endap ke dapur mengintip ibunya tengah membuat kue. Bukan sembarang kue, Rose melihat ibunya memasukkan halilintar ke dalam mangkuk! Kita pasti penyihir kue.

Namun, meski dia dan ketiga saudaranya selalu diikutkan ketika kedua orangtuanya harus mencari benda-benda aneh yang dimasukkan dalam stoples biru, Rose tak kunjung diberi tahu soal resep-resep ajaib milik kedua orangtuanya itu.

Rose adalah anak kedua dari empat bersaudara. Sebagai anak perempuan tertua, Rose kerap dimintai tolong untuk membantu kedua orangtuanya, Albert dan Purdy, di toko roti mereka, Bliss. Tapi hanya untuk pekerjaan biasa. Sejak Rose melihat cara-cara aneh ibu bapaknya membuat kue, dia tidak sabar untuk segera menjadi penyihir kue. Hingga kemudian kesempatan itu datang dengan sendirinya.

Albert dan Purdy mendadak harus keluar kota selama satu minggu untuk menyelamatkan penduduk yang terkena flu parah. Hal yang selalu mereka lakukan diam-diam di tempat tinggal mereka, Calamity Falls. Mereka kemudian memberikan Rose kunci ke ruang rahasia dan berpesan, “Jangan pernah membuka buku ini kecuali saat kebakaran.”

Cookery Booke adalah buku berisi resep-resep rahasia. Sudah lama Rose ingin membacanya tapi kedua orangtuanya tidak mengizinkannya. Namun, sekarang, ah kenapa tidak mencoba satu atau dua resep?

Bersama saudara tertuanya, Ty, mereka pun membuat kue-kue ajaib. Hanya muffin cinta dan cookie kebenaran harusnya tidak jadi masalah, kan?

Tapi kemudian seluruh penduduk kota pun bertingkah laku aneh. Belum lagi ada tante misterius yang mendadak datang dan membuat semua orang terpesona itu sepertinya hendak mencuri Cookery Booke. Rose benar-benar kebingungan.

Bliss adalah novel trilogi tentang keajaiban dari sepotong kue. Keajaiban yang melibatkan bahan-bahan aneh seperti hembusan napas, angin, suara burung, dan lain-lain. Si tokoh utama, Rose ,  adalah anak tengah yang  seringkali merasa diabaikan oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Ty si anak sulung sibuk membanggakan ketampanannya, Sage, si anak ketiga, sibuk meniru Ty, dan Leigh, ah dia kan masih tiga tahun. Meski begitu Rose bangga bisa membantu kedua orangtuanya dan tidak sabar untuk menjadi penerus penyihir kue selanjutnya.

Membaca karya Katherine Littlewood ini membuat perut perlahan-lahan bereaksi hingga kemudian memberontak. Seperti itu pula konflik yang terjadi, awalnya kecil lama-lama menjadi besar. Dan semakin besar masalahnya, semakin lapar perut kita dibuatnya. Siapkan camilan dan air putih saat membacanya, kita tidak mau menjadi gemuk hanya karena membacanya, kaaan.