Selasa, 20 Februari 2018

SELASHAring: Demi Perayaan Ulang Tahun Si Kelahiran Juni



Bagi anak SD, saya waktu itu, merasa perayaan ulangtahun itu penting. Karena jadi momen ketika saya dapat mengundang kawan-kawan saya, menyuguhi mereka makanan lezat, dan kemudian saya mendapat tanda mata dari mereka. Maklum, kedua orangtua saya bekerja, sehingga kalaupun saya membawa satu-dua teman ke rumah, saya hanya bisa menyediakan telur dadar karena makanan yang di meja sudah dijatah untuk orang rumah.

Namun, membuat perayaan ulang tahun itu tidak mudah. Bahkan untuk sekadar menerima ucapan ulangtahun saja, sulit. Apa sebabnya? Karena saya terlahir di pertengahan bulan Juni. Pada zaman Orde Baru, pada saat itu selama berpuluh-puluh tahun pastilah sedang libur panjang sekolah. Tidak ada kawan yang ingat, apalagi mengucapkan selamat. Terkadang saya berharap saya lahir di bulan yang berbeda ....

Bukannya tidak pernah diistimewakan. Mama punya tradisi menggorengkan ayam ala KFC dalam potongan besar dan boleh makan sesukanya, setiap akhir pekan ulangtahun anak-anaknya. Dan tak lupa, mama akan mengulang kembali kisah detik-detik kelahiran anak yang ulangtahun saat itu. Tapi ... Tetap saja, I want to invite all of my friends.

Hingga kemudian entah apa yang merasuki saya. Hari itu saya ulangtahun. Dan tentu saja sedang libur panjang di rumah saja. Dan tiba-tiba ... Saya bangkit dari kasur, lalu keluar rumah. Mendatangi satu per satu rumah kawan saya dan menyampaikan pesan, “Datang ya ke pesta ulang tahun saya, jam 4 sore.”

Seperti yang sudah diduga banyak kawan yang tengah pergi berlibur. Ketika saya kembali ke rumah, saya tidur-tiduran lagi (atau mungkin menonton televisi). Menunggu. Tak bicara sepatah kata pun pada orang rumah. Apalagi itu hari kerja. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu. Dan kemudian jam 4 sore pun tiba, tidak terjadi apa-apa. Lalu jam semakin lewat dan tak lama ada suara kecil memanggil dari luar pagar. Bukan satu tapi dua ... kawan yang rumahnya paling dekat dengan saya sudah datang. Berpakaian apik. Membawa kado.

JEEENG!

Kakak saya yang kemudian akhirnya tahu bahwa saya mengumumkan pesta ulang tahun ke teman-teman (dan tentunya bukan dari saya), sontak kelabakan menyediakan suguhan. Sedangkan saya pura-pura mandi ^^

Ya ampun, mau dikasih apa anak orang?

Ada yang beli mie instan. Bongkar-bongkar lemari cari kue.  Wakakaka heboh lah. Belum lagi, kemudian orangtua saya pulang. Dan terbengong-bengong.

Pada akhirnya, dua kawan itu bukan jadi tamu undangan tapi lagi iseng aja mampir pakai baju bagus. Tidak ada lagi soalnya yang datang. Disuguhi mie instan dan kue kaleng biru. Mereka juga sama bingungnya. Tapi melihat muka saya yang cengar-cengir saja, kayanya tidak ada harapan mencari keterangan dari saya. Papa sempat mengabadikan momen itu, tapi fotonya di rumah orangtua saya hehehe ....

But, I was happy actually.

Jarang-jarang saya spontan begitu. Sering ngerepotin memang gaya saya, tapi biasanya bukan karena ide spontan hehehe ...

Dan hingga kembali masuk sekolah dan kawan-kawan mengeluh soal pesta hoax itu, saya tetap senang.

Serius, bahkan hingga sekarang saya tidak habis pikir dengan motivasi saya.

Saya baru berhasil mengundang kawan-kawan ke rumah saat ulangtahun dengan tata tertib yang baik, selepas kuliah. Yang diundang kawan-kawan kuliah. Sekitar 10 tahun kemudian. I finally have cake with candles to blow hahahah ... Saat itu rasanya, okeh, mission accomplished.

Ulangtahun sendiri kemudian menjadi makna yang personal bagi saya. Saya yang kemudian belajar menerima keadaan bahwa akan selalu kena liburan sekolah, menikmati ketika ketiga kakak saya menyeruduk masuk kamar di pagi hari dengan muka gembira dan menyanyikan selamat ulang tahun dengan gaya lucu-lucu-padahal saya sudah SMA. I guess, selain orangtua saya, merekalah orang-orang pertama yang menyambut kelahiran saya secara real time. I feel like, for better or worse, I'm still their little sister. So it means alot.

Seringkali, ketika saya begitu tidak percaya diri hendak melakukan sesuatu (banyak sih sesuatunya), mengingat kenekatan saya ini seperti motor semangat yang menyala kembali. Dan peristiwa itu membuat saya memahami bahwa bagi saya yang penting bukan hasilnya, melainkan apakah proses perjalanannya membuat hati saya senang. Kalau sudah senang, walau gagal, pasti mau mencoba lagi.

Kalau dipikir-pikir ada sekian banyak kenekatan saya, yang terutama tertumpah dalam hal menggebet cowo ^^ tapi walau sering memalukan, selalu ada sisi saya yang bangga dengan keputusan itu. Cause you’ll never how far you will go, if you don’t go through it ...


Selasa, 13 Februari 2018

SELASHAring: Tiga Tahun Lagi Setelah Tiga Dekade, Lalu Apa?



Usia 30-an bagi saya berlalu seperti angin. Rasa-rasanya saya tak bisa mengkorelasikan usia dengan peristiwa tertentu di dekade ke-3 ini. Tahu-tahu saya sudah dihadapkan dengan kalender baru dengan tahun yang baru. 2018, itu artinya sebagai kelahiran 1981, saya akan menginjak usia 40 tahun dalam tiga tahun lagi. Itu pun kalau masih diberi napas. Saya pernah iseng-iseng meng-google dan ternyata usia kepala 4 ini terbilang istimewa sehingga ada doanya segala. Ga tahu deh itu doanya sahih atau ga. Apa pun, itu menunjukkan bahwa ada sesuatu di usia yang katanya saatnya kehidupan dimulai.

Di antara pesatnya laju 30-an, saya mencoba mengerem pelan-pelan. Tiga dekade ini .. .saya sudah berbuat apa? Saya sudah jadi apa? Dan ada hal yang menarik tanya dalam diri sendiri adalah, betapa nama saya mengalami metamorfosa setiap dekadenya.

0-12 tahun
Inilah usia saya lahir dan kemudian bertumbuh. Jenjang pendidikannya hingga lulus SD.  Panggil saya, Ati. Ati, bisa dikatakan nama kecil saya. Asli tercetus dari mulut orangtua saya. Dipenggal dari nama belakang saya, Melati. Ati si bontot, yang mudah ngambek, juga sangat manja. Namun, masa kecil tak selalu indah di angan itu, menjadi dasar kehidupan saya selanjutnya.


13-19 tahun
Inilah yang saya anggap masa ‘teen’ (karena memang baru dimulai di thirTEEN). Usia SMP dan SMA ketika masih labil, pencarian diri dkk. Dan ternyata berpengaruh pada panggilan saya. Macam-macam panggilannya. Saya menjadi banyak hal. Di sinilah saya membentuk alur kehidupan saya. Mungkin bentuknya tak sempurna, penuh coba-coba.  Dan berjilid-jilid buku harian menjadi saksi, bahwa saya pernah menjadi Dilan. Hanya tidak pernah mengecap keberuntungan seperti dirinya. Eh malah curhat.




20-29
“Mulai saat ini, nama kamu HP Melati.” Begitu kata dosen saya ketika pada tahun 2000, nilai kuliah saya tidak keluar. Rupanya nama yang saya singkat demi alasan UMPTN tidak bisa diubah lagi. Padahal saya berencana sementara saja memakai singkatan seperti itu, terlebih singkatannya, walau dari nama saya sendiri, serupa dengan singkatan nama gebetan saya di SMA. Tapi alih-alih baper, saya seperti tengah mendapatkan legitimasi nama panggung saya. Entahlah, saya suka berkhayal menjadi orang terkenal. Lalu kemudian saya bermimpi, someday this name will be known globally, bersanding dengan karya-karyanya. HP Melati kemudian menjadi semakin paten, ketika saya kemudian memilih memperkenalkan diri sebagai “Melati” pada klien di tempat kerja saya. Biar kelihatan profesional hehehe ... Bukan Ati yang kekanak-kanakan, tapi Melati yang anggun.



30-sekarang
Lalu kemudian usia 30 pun datang. Ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan, saya pikir habislah sudah karier si HP Melati. Namun, ternyata saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa sejak itulah cikal bakal saya kemudian dipanggil oleh para tetangga dan anak-anaknya dengan  sebutan  “Ami” . Panggilan anak-anak ke saya. Dan lagu hidup saya pun kini tak lepas dari status saya sebagai Ami beranak tiga. Ami yang galak dengan anak-anak yang chaos. Sungguh, deretan postingan blog dan foto-foto di medsos terwujud lebih karena saya seorang Ami. I guess my life is not so bad at all.




Dari tiga dekade itu, saya merasa seperti tengah memasukkan beberapa sendok susu bubuk dengan aneka rasa dalam gelas yang berbeda. Akankah beberapa gelas itu menjadi satu gelas minuman yang benar-benar berbeda dari bahan awalnya?

If I die, apa yang akan orang-orang ingat akan diri saya? Selain bahwa saya kidal dan buta warna? Sesuatu yang akan diingat anak-anak jika melihat atau memikirkan sesuatu ketika aminya sudah tiada. Maunya sesuatu yang indah, yang menginspirasi. Bukan rentetan omelan seperti tengah ospek di setiap pagi.

Yes, I’m kinda monster mom.

Namun, lucunya, hal yang paling sering saya khayalkan adalah melakukan perjalanan panjang bersama anak-anak. Ah, mungkin saya hanya ingin jalan-jalan ^^

Entahlah ... saya beberapa kali pernah menonton film tentang orangtua dan anak yang melakukan perjalanan panjang. Oprah bahkan melakukan tantangan melakukan perjalanan panjang bersama sahabatnya, sesuatu yang sangat dia hindari karena tahu biasanya suka ada drama. Namun ketika melihat berita tentang sepasang kakek nenek keliling Eropa dengan mobil ber-plat B, saya merasa mimpi saya mungkin tidak sejauh itu.

I want to create our journey, our story.

Create atau cipta sebenarnya adalah motivasi yang sudah lama saya pendam atau lebih tepatnya lama saya tunda-tunda. Selama ini, hanya seperti memanaskan mobil di akhir pekan tanpa benar-benar mengendarainya. Hanya berkutat di blog yang juga tidak ambisius.

Menulis dan menyanyi adalah dua-duanya yang dapat saya lakukan secara alami. Dan sudah sejak lama sejak terakhir kali saya menuliskan ‘nyanyian’ saya. Dalam puisi, dalam larik, dalam prosa ... Maka saya rasa waktu tiga tahun lagi itu adalah saat yang tepat untuk comeback. Dan jejaknya dimulai dari sekarang. Saya mungkin bukanlah sosok yang cocok menjadi seorang influencer, tapi saya tak pernah keberatan jika dapat menghibur. Saya memang galak, but I love to tell stories ...

Lalu apa kesimpulannya?
Jelang usia 40 tahun ini akan menjadi sebuah perjalanan hidup bersama keluarga yang diiringi dengan nyanyian dan sebuah cerita yang tercipta di setiap belokannya. Saya kan mengisahkan lagu dan melagukan kisah ... dan akan saya bagikan kepada dunia. Tunggu saja tanggal mainnya. Insya Allah.

Minggu, 11 Februari 2018

hoMYNGGU: Pilihan Olahraga (Saya) di Rumah



Sejak pertengahan tahun lalu, saya memutuskan untuk memasukkan jadwal olahraga ke rutinitas saya. Walau masih up and down moodnya, tapi posisinya semakin pasti dalam kegiatan saya. Karena saya ga mampu secara uang dan waktu untuk nge-gym di tempat gym di mal, maka saya gunakan berbagai support system yang murah meriah, baik itu outdoor maupun indoor. Banyak yang saya coba, secara saya bosenan juga, tapi akan efektif kalau konsisten dilakukan minimal 3 kali seminggu. Badan sudah mulai jompo, jadi harus banyak bergerak biar fit.

OUTDOOR
1. SENAM OTAK. Salah satu yang rutin saya lakukan adalah mengikuti senam warga setiap Sabtu jam 7-9 pagi. Dengan instruktur berusia 58 tahun dan sudah berpengalaman, ibu Iik memeragakan senam otak karena ada beberapa pelaku senam adalah ibu-ibu usia lansia. Berbeda dengan aerobik atau zumba, senam otak menggunakan hitungan 2-2 bukan 4-4, jadi kalau tidak fokus akan belibet kaki dan tangannya hehehe ....  Apalagi kalau yang sempat lama ga senam, pasti keteteran napasnya, walau kalau dilihat gerakannya tidak heboh.

2. JALAN KELILING KALCIT. Kalau saya cukup dengan berjalan, beda dengan suami yang lebih memilih lari keliling kalcit. Dua keliling Kalcit bisa 30 menit berjalan, sedangkan kalau lari bisa dapat tiga keliling Kalcit. Biasanya saya pakai rute ini, kalau teman CFD saya di hari Minggu sedang berhalangan. Maklum, ibu-ibu cuma bisa keluar olahraga pas akhir pekan. Kalau hari sekolah kan jadi petugas persiapan anak-anak sekolah. ^^

*Sebenarnya kalau tinggal di bagian Green Palace bisa berenang juga, tapi karena saya tidak tinggal di bagian situ dan tidak bisa berenang juga, jadi yaaah ... begitulah.  Sekarang, setiap Rabu di selasar taman Green Palace juga diadakan senam osteoporosis yang dimulai jam 10 pagi. Belum pernah coba juga sih. Walau belum usia lansia, kayanya ga ada salahnya ikut senam ini.

INDOOR
Olahraga indoor seringkali berarti olahraga di rumah. Waktunya mepet, cuma 30 menit, karena anak-anak kepo. Sedangkan kalau pas anak-anak sekolah, emak-emak cuma bisa olahraga di dapur.

1. SALSA. Ini senam loh, bukan maksudnya mau les tari salsa. Lagi-lagi ibu Iik sebagai instrukturnya dan memang ini spesialisasi beliau. Mulainya jam 4 sore sampai jam 5.30 di gym Green Palace setiap Selasa dan Kamis. Saya jadi harus nunggu barengan sih supaya bisa masuk ke sini. Hanya saja, karena barengan dengan jadwal ngaji anak-anak, yang sering terjadi adalah seusai senam saya tergopoh-gopoh ke masjid untuk menjemput sambil gendong yang bungsu, biar cepat. Nah, akibatnya, saya jadi suka flek darah. Makanya, saya belum ikutan lagi. Padahal ini juga sangat menguras keringat loh, baju bisa basah semua. Dan sangat bagus untuk pembentukan panggul ke bawah yang mulai berkibar-kibar. Saya pernah tanya ke Ibu Iik kenapa saya jadi flek, kata beliau ya sejatinya tidak ada yang boleh dilakukan secara terburu-buru. Mungkin juga karena rahim saya sudah turun, dipakai setengah berlari dan gendong-gendong, malah jadi tekanan di dalam perut saya. Jadi, ya sudah, saya senam di rumah saja.


2. YOUTUBE is MY PARTNER. Kalau di rumah tentu saja berteman dengan youtube offline ^^ ada beberapa channel yang saya suka.

a. AEROBIK dengan POPSUGAR. Channel ini mengusung aerobik yang ringan dan menyenangkan. Terkadang saya ikut senyum-senyum mendengar percakapan member popsugar-nya walau diulang-ulang. Nilai plus dari channel ini adalah, ia mencontohkan gerakan-gerakan sesuai level dan kemampuan. Jadi untuk satu gerakan, kalau ga bisa lompat bisa jalan di tempat, kalau ga bisa lurus kakinya, bisa ditekuk.  Jadi ga terintimidasi banget kita lihatnya.

b. ZUMBA dengan VIJAYA TUPURANI & LIVELOVEPARTY. Kalau lagi ingin nge-zumba, saya biasanya pilih dua channel ini. Tapi untuk Vijaya Tupurani ini harus pilih yang edisi group ya, kalau Cuma dia sendiri gerakannya susah banget. Kebetulan saya juga suka nuansa India jadi fun saja bagi saya dan ada gerakan-gerakan bahu yang khas. Sebenarnya saya pernah coba juga senamnya Bipasha Basu, tapi walau simpel tapi saya terintimidasi sama keseksiannya >.< Udah juga pakai jeans hotpants, tank top crop, rambut digerai berkibar-kibar dikasih angin-angin. Beuuuh ...

Sedangkan LiveLoveParty ini lebih terasa nge-dance-nya, teruus saya pilihnya karena dia juga ada cover lagu BIGBANG hehehe .... Ribetnya nge-zumba via youtube adalah sebentar-sebentar harus pilih mau video yang mana. Biasanya saya cuma nge-zumba lima belas menit, habis itu ganti olahraga yang lain.

c. YOGA dengan BOHO BEAUTIFUL. Saya hanya mengikuti yang seri mudah-mudahnya saja. Seringnya yoga bermanfaat untuk bikin badan enak ketika terkena pegal-pegal usai olahraga. Cuma terkadang suka baper lihat body intrukturnya yang kuruuuus banget.

d. AEROBICS ala FIGUREROBICS. Ini yang lagi saya tekuni sekarang. Masih belum bisa setiap hari sih. Figurerobics menawarkan olahraga yang tidak membutuhkan banyak space. Penting ya buat kami yang tinggal di unit yang super ‘luas’ ini. Walau tidak memakan tempat banyak, tapi dalam 30 menit, keringat maksimal keluarnya. Instrukturnya orang Korea jadi sembari ngikutin hitungannya terkadang saya merasa tengah wajib militer hahahaha ...

 Pertama kali ngikutin, kaki lemes. Selalu merasa ingin menyerah di menit ke-20, tapi belum pernah menyerah. Dua-tiga kali absen, kaki nyut-nyutan lagi. Figurerobics ini juga ada levelnya, tapi belum nyoba sih, wong yang level satu aja ga lulus-lulus kok ...


3. TABATA dengan Aplikasi
Saya pernah diberitahu sama tetangga soal workout di Youtube dengan tajuk Tabata. Ketika saya lihat, workout-nya mirip dengan aplikasi Leap Fitness Group, Tantangan Kebugaran 30 Hari-Latihan Rumahan.  Minus musik saja. Aplikasi ini saya pakai buat variasi setelah ngezumba. Cuma butuh 15 menit sih, tapi isi workoutnya alamakjaaan. Memang ada level-levelnya dan bisa memilih mau workout perut, lengan, kaki, atau seluruh tubuh. Kata yang memberi komentar sih disarankan jangan mulai dari level pemula banget, biar nendang. Biasanya ada 10-15 gerakan dan diakhiri dengan plank. Nah, plank ini yang ga nahan. Semakin hari semakin lama soalnya. Walau selalu ada hari istirahat setiap hari ke-5, tapi kalau sudah istirahat, posisi plank itu jadi susah lagi dikerjakan. Ini masih tantangan sih buat saya, ga kelar-kelar 30 harinya ^^ padahal sudah beberapa bulan lalu itu aplikasi nongkrong di ponsel.

Nah, kekurangannya olahraga di rumah adalah, ada risiko menginjak mainan anak hahahaha ... Pernah juga walau saya sudah di kamar tapi karena anak-anak dengar musiknya mereka olahraga-olahraga sendiri di depan pintu kamar, sambil cekakak-cekikik lalu jerit-jeritan. Sungguh mengalihkan konsentrasi ^^’


Hasilnya? Hmmm .... katanya sih jangan olahraga untuk menurunkan berat badan, tapi supaya badan sehat. Hehehe ... Ngeles banget yak.

Sempat dua bulan pertama, berat badan saya malah naik, minimal stagnan. Kata kawan sih, itu artinya jadi otot. Cuma kan bikin drop juga ya. Mau ga mau, pola makan emang harus diubah. Alasan emak-emak sebagai penghabis sisa makanan anak harus dikurang-kurangin. Jadi biasanya saya masak tiga cup beras untuk satu hari. Sekarang saya hanya masak 1,5-2 cup sehari untuk seluruh anggota keluarga. Ga makan malam, tapi makan sore. Dari pagi sampai sore ya sesuka saya makannya. Nah, makan sore ini juga ada syarat. Syaratnya jam 9 malam dah tidur. Kalau begadang ya berasa lapar lah. Anyway, semoga ikhtiar sehatnya semakin konsisten. Biar semangat menjalani hidup heheheh ... doakaan.



Jumat, 02 Februari 2018

JJS: Lebih Akrab dengan Bakari di Faunaland, Ancol




Kami duduk berhadapan. Saling menatap. Sesekali ia tolehkan mukanya. Ingin rasanya membelai wajahnya yang terlihat mengantuk tapi hanya bisa kutempelkan tanganku di pembatas kaca. “Semuanya baik-baik saja. You’re safe here.” Kataku dalam hati. Lalu bola matanya bergulir, kembali jatuh ke pandanganku. Kemudian hening mengisi jarak di antara kami.
“Eh, lihat ada singa!” suara orang yang datang mengejutkanku. Ah, sudah ada pengunjung lain. Aku pun bergeser dan beranjak pergi.  Rindu sudah mulai merangsek dalam diriku.

Kami sedang berada di Faunaland yang terletak di dalam area Allianz Ecopark, Ancol. Jalan-jalan bersama keluarga suami. Taksi online mengikuti rambu-rambu petunjuk dan kemudian menurunkan kami di pintu samping Ecopark. Memang jadi jauh jaraknya menuju Faunaland yang kata tetangga saya serupa dengan Singapore Zoo. Ecopark sendiri tidak mengenakan biaya masuk, jadi dengan alam terbuka luas seperti ini, membawa sepeda dan perbekalan pasti akan menjadikan piknik kami berlangsung seharian. Sayangnya, hari ini tidak bawa sepeda. Tapi tak apa, bagi-bagi anak-anak outdoor seperti anak-anak saya, lahan terbuka ini sudah sangat menggoda bagi mereka untuk berekspresi.



Ada untungnya juga kami lewat samping, karena di tengah perjalanan kami melihat beberapa burung sejenis pelikan tengah bersantai di pinggir sungai. Burung yang sejatinya tidak akan kami lihat nongkrong begitu saja tanpa pengawalan ini tentulah menarik perhatian. Anak-anak berusaha mendekat, tetapi melihat reaksinya yang tidak terlalu suka didekati manusia, maka anak-anak hanya berjongkok melihat burung itu, sambil sesekali orangtuanya berfoto.




Akhirnya sampai juga di pintu masuk Faunaland. Tiap-tiap orang di atas usia 3 tahun dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 50000,- kalau bundling tiket dengan naik perahu, cukup bayar Rp.70000,-. Sedangkan tiket perahunya sendiri kalau eceran sebesar Rp.30000,- Tiket ini berlaku seharian, jadi kalau mau keluar masuk cukup perlihatkan bukti pembayaran dan cap. Tapi capnya agak mudah pudar, makanya simpan baik-baik bukti pembayarannya ya.


Sayangnya, begitu kami tiba, pertunjukkan burung baru saja selesai. Bird Show ini hanya ada di pukul 10 dan 14.30. Nah, kalau mau nunggu bird show ya kira-kira harus nunggu sekitar dua jam lebih. Hmmm bisa ga ya?


Adalah dua singa betina yang menyambut kami pertama kali. Singa-singa ini terlihat tidak agresif walau tengah rebahanan persis di samping pagar kawat. Jadi anak-anak pun bisa duduk manis menatapnya. Saya sudah ingatkan mereka agar tidak bersikap agresif, karena insting singa apalagi betina ya agresif. Secara ia kan pencari nafkah. Sebenarnya ada juga sisi kandang kaca, tapi singanya ga lagi di situ. Pembatas kaca ini memungkinkan pengunjung lebih dekat ke singa tapi tetap aman. Di samping kandang singa, ada kandang monyet putih. Terus saya mikir, apa si singa ga ngiler ya lihat monyet?



Setelah itu ada beberapa kandang-kandang kecil yang hewannya menarik. Tapi yang membuat saya senang adalah akhirnya bisa melihat tapir betulan. Tapir seperti halnya zebra masuk dalam kategori hewan ajaib menurut saya. Dan bisa melihatnya dengan tubuh tambun  dan bukan hanya di gambar yang selalu ada di peta-peta menunjukkan bahwa ia adalah hewan khas sulawesi, buat saya itu amazing banget. Sayang sendirian, mudah-mudahan si tapir bisa segera dapat pasangan.






Lalu ada juga hewan ternak yang bisa diberi makan dengan membayar Rp.10000,- seperti kuda poni dan kambing. Kuda poninya bisa dinaiki loh. Tapi bayar lagi.




Nah, bintang utamanya adalah another singa putih, namanya Bakari. Tapi kali ini ada jantannya, ditemani dua betina. Konon, singa putih ini hanya ada 10 di dunia. Bakari terlihat tenang dan ngiler lihat anak-anaknya. Surainya bergoyang lembut, memancarkan auranya.

Kandang Singa yang didatangkan khusus dari Afrika ini, hampir sepenuhnya dari kaca. Kecuali bagian yang tidak memungkinkan kontak dengan pengunjung. Areanya lebih luas. Dan tidak hanya bisa tatap-tatapan dengan singa putih dari dekat, kita juga bisa kasih makan. Gimana caranya? Ada sebuah corong yang berbentuk kayu tempat mentransfer daging ayam yang sudah disediakan petugas. Seru kaaan.... Kapan lagi bisa kasih makan singa?



Ga mungkin ada bird show kalau tidak ada koleksi burung. Dan burung-burung ini walau dirantai tapi nangkring di tempat terbuka. Tapi ada juga yang tidak dirantai seperti beberapa burung kakaktua. Kalau burung rangkong ya iyalah, kalau ga, bisa diculik orang nanti. Kan sudah mulai masuk hewan langka. Kakaktuanya juga ada yang cukup komunikatif sehingga mengundang tawa anak-anak. Karena berada di alam terbuka, saya tergoda memunguti bulu-bulu burung yang warna-warni itu. Masya Allah, rajin banget yang ngewarnain. Tak hanya itu, kami juga bisa berfoto dengan burung-burung nuri yang jinak banget. Gratis. Foto sama burung elang juga gratis. Sensasinya beda ya kalau sama burung elang.



Memang koleksi hewannya tidak banyak, tapi kemudian tempatnya yang asri dengan penataan kebun yang ciamik membuat tempat ini ga semudah itu ditinggalkan. Kami yang membawa bekal, menikmati makan di sana karena memang tidak ada yang jual makanan di dalam situ. Jangan lupa bawa salep antinyamuk. Selebihnya, anak-anak main bebas berkeliaran.  Dan selalu ingat jaga kebersihan.





Saat hendak shalat, kami keluar Faunaland dulu dan menemukan tempat shalat berupa pendopo kecil di samping. Sebenarnya di lobi juga ada musolla, dan pendopo tempat kami shalat itu sepertinya untuk karyawan pengelola. Tapi karena di situ, saya jadi ngeh dengan suara bising khas siamang. Rupanya ada semacam pulau kecil di antara sungai itu. Jerit-jeritan siamang itu jelas menarik perhatian pengunjung yang mungkin juga ga ngeh kalau ada mereka di sana. Dan dengan adanya  semacam dermaga, orang-orang pun jadi punya pertunjukkan yang bisa dilihat sambil duduk-duduk. Dan tidak hanya melihat siamang. Ikan-ikan cantik sudah berkerumun di sekitar dermaga. Warna merah, orange, putih, memadu cantik. Dan mulut-mulutnya seolah tak berhenti merasa lapar. Pakan ikannya juga bisa dibeli di petugas yang duduk tidak jauh dari peminjaman sepeda.



Tidak terasa sudah menit-menit menjelang pukul 14.30, kami berhasil berada di sini dua jam lebih. Tapiiiiii ... anak-anak sudah keburu ingin ke laut. Namanya juga ke Ancol ya, masa ga basah-basahan. Ya udah, skip deh bird show-nya. Dan pantai Ancol pun hanya selurusan dengan pintu masuk Ecopark, jadi kami cukup jalan kaki sebentar dah sampai.

Sementara anak-anak main air, saya sudah kangen mau ke Faunaland lagi. Mungkin bawa sepeda. Mungkin di jam yang lebih tepat. Suatu hari nanti .... Karena rindu itu berat, kasihan Bakari, biar saya saja yang datang lagi


Jumat, 19 Januari 2018

JJS: Yang Tertinggal di Pulau Pari




“Bismillahirramanirrahiim.” BYUUUUR!!
And there she goes. To the water.
Mungkin inilah rasanya liburan ‘syariah’. Pikir saya saat melihat satu per satu pengajar mengaji anak-anak saya lompat ke laut dari perahu dengan pelampung dan ... Gamis plus kaos kakinya.

“Subhanallah” dan “Masya Allah” berganti-gantian terucap ringan seperti air dari sekitar 15 pengajar Kalibata City Tahfidz Club yang ikut rihlah ke Pulau Pari dalam rangka ‘rebounding’. Gayanya sih sama saja dengan remaja zaman now, sibuk foto-foto juga, cekikikan juga, tapi ya masing-masing kelompoknya. Saya jadi teringat masa-masa saya masih langsing, saya ga begitu hahahaha ....


Awalnya saya agak ragu ketika mengajukan lokasi rihlah yang berbau laut. Yah, maksudnya nanti kasihan yang perempuan ga bisa ikutan snorkling karena kan baju nya nanti lepek. Tapi merekanya malah lebih prefer dapat vitamin sea, jadi ya sudahlah. Kebetulan dapat harga yang sesuai bujet, di bawah 6 juta utk 25 orang untuk 2 hari 1 malam.


Hari Jumat menjadi hari yang disarankan agen dari Kepulauan Seribunya, karena katanya Sabtu itu terlalu ramai. Dan memang, bertolak dari Kalibata jam 5.30, bisa sampai dengan lancar di pelabuhan Angke jam 6.00. Konon, di hari Sabtu, jalan menuju Angke itu macet parah loh. Terbayang, melihat kondisi jalanannya juga begitu, sempit.


Dari Angke menuju Pulau Pari membutuhkan waktu sekitar hampir 2 jam. Kami tidak pakai speedboat, perahu mesin biasa yang besar, tapi tetap dapat pelampung. Speedboat baru ada ketika akhir pekan, walau ketika di sana saya mendapat flyer terkait speedboat baru yang sudah standby sejak Jumat. Tentu harganya beda ya ...


Sesampainya di sana, sudah ada tur guide dengan gerobak dorong untuk membawakan tas-tas kita semua. Lalu kita pun dipandu menuju sebuah homestay. Penginapan di sana semuanya berbentuk homestay, mirip kaya waktu ke Dieng. Tapiiii ... standar kamar mandinya sederhana banget. Bersih sih, tapi keciiiil ^^


Sepeda menjadi transportasi utama di sana. Biasanya setiap rumah, sudah ada tempat parkir sepeda-sepeda yang bisa kita gunakan gratis sepanjang hari. Saya yang sudah lamaaa sekali ga naik sepeda harus mengalami serangkaian drama: setiap kali baru menggenjot pasti jatuh, ada yang menyapa langsung nabrak, ada yang menyalip langsung oleng dan nabrak. Tapi yah masa mau ditinggal di jalan sepedanya?



Pantai Perawan alias Virgin Beach menjadi destinasi pertama kami. Dan kemudian saya tahu kenapa Pulau Pari adalah tempat yang cocok untuk keluarga terutama dengan anak-anak yang masih kecil. Pantai yang landai menjadi andalan Pulau Pari. Pemandangannya buat saya pecinta laut tapi ga bisa berenang  tentu menyenangkan, karena airnya tenang tapi tetap luas dan bisa berjalan di air hingga jauh karena dangkal. Di sana sini disediakan spot foto seperti ayunan dan gazebo di atas air. Pasir putih dan tebaran rumah-rumah keong menjadi objek kesibukan anak-anak. Selebihnya mereka menikmati bermain air mumpung ga ada yang larang.



Pada kesempatan ini, saya hanya bawa si bungsu. Yang lain sama bapaknya hehehe ... Saya sih sudah kebayang, kakak-kakaknya pasti akan langsung menghambur ke air dan betah berlama-lama di sini. Di bagian pantainya juga banyak gazebo atau sekadar kayu untuk duduk-duduk di bawah pohon.


Usai shalat jumat di masjid yang persis di depan homestay kami dan menyantap makan siang yang sudah disiapkan katering di sana, kami melanjutkan kegiatan yaitu snorkling. Saya sih sudah niat mau nyemplung aja, ga mau snorkeling. Pengalaman diajarin snorkling di Pulau Umang ga berhasil karena kata instrukturnya saya berhalusinasi ^^ ya saya percaya aja sih, secara saya suka ngayal memang.


Perahu mesin membawa kami hampir setengah jam mencari titik yang tepat. Para peserta lain diberi briefing singkat terkait penggunaan perlengkapan snorkeling. Pengajar laki-laki langsung menyentuh air, sedangkan yang perempuan butuh waktu sejenak sebelum ikut nyemplung. Baju yang mereka pakai sepertinya sudah di-setting agar tidak berat saat terkena air walau mereka pakai celana panjang juga di dalamnya. Jarang-jarang kan lihat orang nyelam sambil pakai gamis lengkap dengan kaos kaki, ada yang puasa pulak.


Dengan dipancing potongan roti maka datanglah berbondong-bondong ikan-ikan cantik. Kegiatan lihat-lihat ikan ini mungkin terdengan sederhana tapi ga tahu kenapa, bisa lama loh mereka di air. Terkadang mereka naik ke perahu hanya untuk berjemur lalu masuk lagi demi dapat foto di bawah air oleh pemandunya. Saya? Nyemplung juga, tapi pegangan terus ke tangga hahaha .... demi konten.


Ada beberapa hal yang diingatkan pemandunya, seperti: Ga perlu lompat kalau mau masuk ke air, karena dangkal. Lalu ikan-ikan cantiknya ga boleh dibawa pulang yaaa ... waduh anak laki saya pasti kebelet mau ditangkap ikan-ikan cantik itu.


Rasanya ingin terperangkap di dalam laut lebih lama. Merasakan ekor-ekor ikan menggelitik tangan, tapi yah memang sudah waktunya kembali karena ada perahu lain yang datang. Terlalu ramai pun tidak akan menyenangkan bagi ikan-ikan itu.


Sekembalinya kami ke pulau pari, kami menolak beristirahat. Lanjuuut ke Star Island. Rupanya pantai ini banyak bintang lautnya. Bikin gemes ingin foto bareng. Namun perlu diingat, bintang laut itu ga bisa lama-lama diangkat dari air ya ... Ia makhluk hidup loh, bukan properti foto. Sayangnya di pantai ini kok ga terasa terlalu playful kaya di Virgin Beach ya... walau ada lebih banyak properti foto di sini. Tapi view menuju ke sananya lebih banyak hijau-hijau, bukan rumah penduduk. Kami pun tak lama di sana dan kembali ke Virgin Beach.




Di Virgin Beach kami mencoba naik perahu melintasi hutan bakau sambil menanti matahari terbenam. Amboooi .... Saya banyak berharap, baterai ponsel saya tidak habis di saat-saat indah itu... Sungguh menyesal tidak membawa power bank. Sesekali kami turun dari perahu dan nyemplung ke air karena mau foto-foto.




Malamnya kami kembali lagi ke Virgin Beach, hanya saja kali ini saya tidak mau lagi naik sepeda. Lecet sana-sini. Rupanya walau di kiri kanan jalan menuju Virgin Beach sudah bersiap tidur, tetapi di area pantai juga tidak sepi saat malam. Beberapa orang ada yang berkemah, sibuk bermain voli atau barbecue di sana. Suguhan ikan-ikan bakar juga berlimpah, bahkan kami dapat limpahan dari rombongan lain. Lumayan lah, buat menu sahur kawan-kawan yang masih lanjut puasa asyura nya.


Pagi pun menjelang dan saya mencoba menjelajahi sisi lain pulau Pari. Lebih ke arah matahari terbit. Adalah Bukit Matahari yang menjadi spot andalannya. Pantainya penuh sampah rumah kerang, sampah alami sih tapi kan sakit kalau terinjak. Namun, viewnya, luar biasa. Kamera ponsel jadi bisa menghasilkan foto bagus (menurut saya). Sambil menikmati matahari, saya melihat satu per satu pendatang baru bersandar di dermaga. Dan ternyata memang benar kata si agen, Sabtu menjadi hari yang ramai di Pulau Pari. Terlebih ketika kami melihat tidak hanya 2 tapi 6 kapal sekaligus datang, belum termasuk speedboat. Wow, sungguh kami lega bisa berkesempatan menikmati Pulau Pari tanpa harus berebutan spot.




Sengaja aku tinggalkan asa di pulau itu. Berharap bisa kembali sambil membawa anak-anak pecicilan yang tak ikut hari itu. They will love it. For sure.


Selasa, 28 November 2017

SELASHAring: Menikmati Dunia Bercerita Zaman Now dengan So Good CERDIK


http://www.sogood.id/


“Ada lagi ga, Mi?” tanya si anak tengah begitu cerita Chika Chiko-nya habis tapi masih bersambung.
“Ami belum beli nugget lagi.” Jawabku.

Memang apa hubungannya nugget sama cerita?

Ibu-ibu generasi zaman now memang tidak boleh ketinggalan zaman. Sebagai seorang kutu buku,, sudah biasa jika saya membanjiri rumah dengan ragam buku. Apalagi pernah bekerja di sebuah penerbitan, perkembangan buku digital sudah wara-wiri di kepala saya sejak hampir 10 tahun yang lalu. Walau sempat ada masanya saya nelangsa karena tidak mampu membeli tab khusus buku digital, tetapi semakin berjalannya waktu akses buku digital kini semakin mudah dan semakin berkembang secara multimedia. Oleh sebab itu, saya termasuk rajin mengakses aplikasi buku digital terutama untuk anak-anak. Buku digital untuk anak-anak memang banyak ragamnya, ada yang konvensional seperti buku dewasa, ada juga dilengkapi berbagai macam kecanggihan teknologi salah satunya Artificial Intelligence.

Wah kaya di film Avenger, ya? Celetuk si anak tengah begitu dengar AI.


Karena jelang tidur siang, jadi ekspresinya ngantuk n serius ^^



Sejak anak-anak masih di bawah usia 1 tahun, saya sudah membiasakan mereka dengan buku dengan cara membacakannya minimal sebelum tidur. Kebiasaan ini berlangsung hingga si sulung berusia hampir 8 dan belum ada tanda-tanda menghentikan kebiasaan tersebut walaupun si sulung sudah bisa membaca. Bagi mereka, dibacakan cerita oleh Aminya sama seperti ditemani Ami nonton film anak-anak yang sudah jutaan kali diulang itu, ada ekstrakurikulernya. Ya minta dipangku lah, yang senderan lah, yang ngajak diskusi lah, atau sekadar turut menarik sudut bibir saat ada adegan yang lucu menurut mereka.  Pendampingan saat bercerita ini terbukti ampuh dalam perkembangan kosakata anak-anak. Nah, jika kedua pengalaman ini digabung, jadilah buku digital bercerita dengan teknologi AI.

Haloo ... hubungannya nugget sama cerita apa?

[oiya ... maap ... silahkan dilanjutkeun ^^]

Setelah berbagai game berbasis AI bermunculan, SoGood CERDIK turut meramaikan jagad dunia bercerita. Dari setiap pembelian produk SoGood Siap Masak (Bakso, Nugger, Stick, Seafood, Shape Nugget, Whole Muscle, Sausage) kemasan 400 gram, maka kita akan mendapatkan sebuah bingkai mini dan kartu AI. Ukuran kartunya kecil, jadi saya gunakan bingkai mini itu untuk menempatkan si kartu. Sungguh sangat menghemat ruang rak buku di hunian liliput seperti rumah saya.
Begitu saya tunjukkan bonus yang bisa mereka nikmati setelah menyantap nugget Dino SoGood, anak-anak langsung semangat. Dan tiba-tiba jadi akur ^^’ Yah namanya juga anak generasi digital, kalau disodorin yang berbau teknologi pasti terpukau.




Awalnya mereka pikir, karena dari nugget Dino maka ceritanya akan tentang dinosaurus juga, tapi rupanya ada serial kisah yang tak kalah menarik. Adalah, serial Lala dan SingSing, serial Umbo Larage, dan serial Chika Chiko yang menjadi andalan perdana So Good CERDIK (harus rajin mampir ke http://www.sogood.id/  untuk tahu ada kelanjutannya atau tidak ^^). Nah, pas ada tiga seri. Maklum, anaknya juga tiga dan si sulung penganut garis keras keadilan bagi seluruh anak Ami.

Kalau akur begini kan senang lihatnya


Dengan durasi 5 menit tiap serinya, tentu belum cukup bagi mereka apalagi jika ceritanya tidak tuntas. Nah, kalau begini kan jadi lebih semangat aminya beli SoGood. Soalnya, untuk melengkapi satu serial dibutuhkan empat kartu. Jadi totalnya perlu beli 12 kantong So Good Siap Masak.

Hah, So Good sebanyak itu mau dibuat apa saja?

 Tenang, di dalam aplikasi ini juga ada kumpulan resep, jadi tidak usah cemas ataupun bimbang takut mati gaya. Pasti ga mubazir. Cuma saya ga tahu deh, bakal diminta masak dulu atau cerita dulu nanti sama anak-anak ^^’

Selain itu, jadi ada kegunaan lagi kan ponsel saya, terutama jika dalam perjalanan jauh. Seringkali saya menghindari membawa buku anak-anak konvensional agar tidak merusak buku dan tidak berat. Maklum, sudah pergi ke luar kota pun, mereka tetap menagihkan saya membacakan cerita. Nah, dengan aplikasi So Good CERDIK, saya dan anak-anak tetap bisa jadi kutu buku zaman now. Sekarang, belanja ke supermarket serasa pergi ke toko buku. Super mengenyangkan eh ... menyenangkaaan.



Rabu, 22 November 2017

RABUku: Mengumpat Seperti Kapten Haddock


Pada adegan pertama lafaz itu disebut, saya menoleransi dengan berseloroh dalam hati. Mungkin seperti ketika seorang artis dikonfirmasi keterlibatannya dalam sesi foto di majalah Playboy Filipina, “iya, insya Allah, eh insya Allah ... “
Adegan kedua lafaz yang lain disebut lagi, saya toleransi lagi sambil membayangkan film Godfather, mafia yang tak jarang berdoa. Mungkin yang bikin film lebih dekat hubungannya dengan film-film seperti itu. Dipikirnya sama.
Begitu adegan ketiga dan serangkaian lafaz diucap berulang-ulang, saya mulai suudzon. Dan akhirnya mencoba mundur jauh karena ga baik menilai dalam keadaan berprasangka buruk.

Tokoh antagonis di media anak-anak sering membuat saya serba salah. Ketika anak-anak disuguhkan film nabi-nabi dan adegan perang, kata-kata “bodoh”, “mati kau”, dkk bertebaran. Dan ketika anak-anak melakukan reka ulang, kuping saya jengah rasanya. Kan aneh ya kalau saya membuat pernyataan bahwa anak-anak belajar penggunaan kata umpat dari film nabi-nabi.

Lalu muncullah film musikal anak-anak ini. Saya sih bukan pengamat film, hanya ibu-ibu biasa yang tahu jika seandainya waktu itu yang dibawa nonton adalah kakaknya, maka akan banyak protes yang dia lontarkan lalu aminya harus spare waktu itu meredakan emosi si anak dan meluruskan dugaan-dugaan dia yang seringkali terlalu imajinatif. Maklum, kejadian ini bukan hal baru bagi saya. Ini seperti ketika anak-anak bertanya, “ami, kok orang itu Islam tapi ga tutup aurat?” mereka belum dengar aja orang-orang yang menggunakan “jing” sebagai awalan atau akhir kalimat ^^ Hanya saja, bagi saya, jika memang bukan diambil dari kisah nyata, bacaan atau tontonan anak-anak itu lebih menyenangkan jika clear dari praduga dan stereotipe buruk.

Dalam menikmati kesustraan anak, Saya lebih tertarik dengan cara Kapten Haddock mengumpat, walau sosoknya agak antihero karena suka mabuk dan merokok tapi pilihan kata umpatannya legendaris, baik dalam bahasa aslinya atau saat penerjemahannya, yang prosesnya sama-sama ga mudah. Ada semacam intelektualitas linguistik karena sadar pasarnya adalah anak-anak. Sejuta topan badai, kepiting busuk, dkk itu masih terasa lucu saat direka ulang di bibir anak-anak.

Sedangkan untuk tokoh antagonis, saya lebih suka yang ga murni antagonis. I mean, setiap orang kan pasti ada sisi menyebalkan tapi bukan berarti jahat, karena 'jahat' itu kata yang tajam, kebayang kan perasaan Rangga? Begitu juga dengan peran jagoan,  ga harus yang jadi ketua kelas dan menang lomba marching band dan sains (seimbang yak otaknya ^^), tapi yah mungkin jadi ga seru ya filmnya hahahaha ...

Nah, kan ga mudah bikin kalimat yang bebas praduga kaya gitu. Makanya saya maju mundur dengan naskah cerita anak ^^ (alasan). Mungkin karena saya juga masih terperangkap dalam stereotipe buruk (sedih). Semoga yang terjadi menjadi dorongan bagi kita berkarya yang lebih baik ya ....