Selasa, 28 November 2017

SELASHAring: Menikmati Dunia Bercerita Zaman Now dengan So Good CERDIK


http://www.sogood.id/


“Ada lagi ga, Mi?” tanya si anak tengah begitu cerita Chika Chiko-nya habis tapi masih bersambung.
“Ami belum beli nugget lagi.” Jawabku.

Memang apa hubungannya nugget sama cerita?

Ibu-ibu generasi zaman now memang tidak boleh ketinggalan zaman. Sebagai seorang kutu buku,, sudah biasa jika saya membanjiri rumah dengan ragam buku. Apalagi pernah bekerja di sebuah penerbitan, perkembangan buku digital sudah wara-wiri di kepala saya sejak hampir 10 tahun yang lalu. Walau sempat ada masanya saya nelangsa karena tidak mampu membeli tab khusus buku digital, tetapi semakin berjalannya waktu akses buku digital kini semakin mudah dan semakin berkembang secara multimedia. Oleh sebab itu, saya termasuk rajin mengakses aplikasi buku digital terutama untuk anak-anak. Buku digital untuk anak-anak memang banyak ragamnya, ada yang konvensional seperti buku dewasa, ada juga dilengkapi berbagai macam kecanggihan teknologi salah satunya Artificial Intelligence.

Wah kaya di film Avenger, ya? Celetuk si anak tengah begitu dengar AI.


Karena jelang tidur siang, jadi ekspresinya ngantuk n serius ^^



Sejak anak-anak masih di bawah usia 1 tahun, saya sudah membiasakan mereka dengan buku dengan cara membacakannya minimal sebelum tidur. Kebiasaan ini berlangsung hingga si sulung berusia hampir 8 dan belum ada tanda-tanda menghentikan kebiasaan tersebut walaupun si sulung sudah bisa membaca. Bagi mereka, dibacakan cerita oleh Aminya sama seperti ditemani Ami nonton film anak-anak yang sudah jutaan kali diulang itu, ada ekstrakurikulernya. Ya minta dipangku lah, yang senderan lah, yang ngajak diskusi lah, atau sekadar turut menarik sudut bibir saat ada adegan yang lucu menurut mereka.  Pendampingan saat bercerita ini terbukti ampuh dalam perkembangan kosakata anak-anak. Nah, jika kedua pengalaman ini digabung, jadilah buku digital bercerita dengan teknologi AI.

Haloo ... hubungannya nugget sama cerita apa?

[oiya ... maap ... silahkan dilanjutkeun ^^]

Setelah berbagai game berbasis AI bermunculan, SoGood CERDIK turut meramaikan jagad dunia bercerita. Dari setiap pembelian produk SoGood Siap Masak (Bakso, Nugger, Stick, Seafood, Shape Nugget, Whole Muscle, Sausage) kemasan 400 gram, maka kita akan mendapatkan sebuah bingkai mini dan kartu AI. Ukuran kartunya kecil, jadi saya gunakan bingkai mini itu untuk menempatkan si kartu. Sungguh sangat menghemat ruang rak buku di hunian liliput seperti rumah saya.
Begitu saya tunjukkan bonus yang bisa mereka nikmati setelah menyantap nugget Dino SoGood, anak-anak langsung semangat. Dan tiba-tiba jadi akur ^^’ Yah namanya juga anak generasi digital, kalau disodorin yang berbau teknologi pasti terpukau.




Awalnya mereka pikir, karena dari nugget Dino maka ceritanya akan tentang dinosaurus juga, tapi rupanya ada serial kisah yang tak kalah menarik. Adalah, serial Lala dan SingSing, serial Umbo Larage, dan serial Chika Chiko yang menjadi andalan perdana So Good CERDIK (harus rajin mampir ke http://www.sogood.id/  untuk tahu ada kelanjutannya atau tidak ^^). Nah, pas ada tiga seri. Maklum, anaknya juga tiga dan si sulung penganut garis keras keadilan bagi seluruh anak Ami.

Kalau akur begini kan senang lihatnya


Dengan durasi 5 menit tiap serinya, tentu belum cukup bagi mereka apalagi jika ceritanya tidak tuntas. Nah, kalau begini kan jadi lebih semangat aminya beli SoGood. Soalnya, untuk melengkapi satu serial dibutuhkan empat kartu. Jadi totalnya perlu beli 12 kantong So Good Siap Masak.

Hah, So Good sebanyak itu mau dibuat apa saja?

 Tenang, di dalam aplikasi ini juga ada kumpulan resep, jadi tidak usah cemas ataupun bimbang takut mati gaya. Pasti ga mubazir. Cuma saya ga tahu deh, bakal diminta masak dulu atau cerita dulu nanti sama anak-anak ^^’

Selain itu, jadi ada kegunaan lagi kan ponsel saya, terutama jika dalam perjalanan jauh. Seringkali saya menghindari membawa buku anak-anak konvensional agar tidak merusak buku dan tidak berat. Maklum, sudah pergi ke luar kota pun, mereka tetap menagihkan saya membacakan cerita. Nah, dengan aplikasi So Good CERDIK, saya dan anak-anak tetap bisa jadi kutu buku zaman now. Sekarang, belanja ke supermarket serasa pergi ke toko buku. Super mengenyangkan eh ... menyenangkaaan.



Rabu, 22 November 2017

RABUku: Mengumpat Seperti Kapten Haddock


Pada adegan pertama lafaz itu disebut, saya menoleransi dengan berseloroh dalam hati. Mungkin seperti ketika seorang artis dikonfirmasi keterlibatannya dalam sesi foto di majalah Playboy Filipina, “iya, insya Allah, eh insya Allah ... “
Adegan kedua lafaz yang lain disebut lagi, saya toleransi lagi sambil membayangkan film Godfather, mafia yang tak jarang berdoa. Mungkin yang bikin film lebih dekat hubungannya dengan film-film seperti itu. Dipikirnya sama.
Begitu adegan ketiga dan serangkaian lafaz diucap berulang-ulang, saya mulai suudzon. Dan akhirnya mencoba mundur jauh karena ga baik menilai dalam keadaan berprasangka buruk.

Tokoh antagonis di media anak-anak sering membuat saya serba salah. Ketika anak-anak disuguhkan film nabi-nabi dan adegan perang, kata-kata “bodoh”, “mati kau”, dkk bertebaran. Dan ketika anak-anak melakukan reka ulang, kuping saya jengah rasanya. Kan aneh ya kalau saya membuat pernyataan bahwa anak-anak belajar penggunaan kata umpat dari film nabi-nabi.

Lalu muncullah film musikal anak-anak ini. Saya sih bukan pengamat film, hanya ibu-ibu biasa yang tahu jika seandainya waktu itu yang dibawa nonton adalah kakaknya, maka akan banyak protes yang dia lontarkan lalu aminya harus spare waktu itu meredakan emosi si anak dan meluruskan dugaan-dugaan dia yang seringkali terlalu imajinatif. Maklum, kejadian ini bukan hal baru bagi saya. Ini seperti ketika anak-anak bertanya, “ami, kok orang itu Islam tapi ga tutup aurat?” mereka belum dengar aja orang-orang yang menggunakan “jing” sebagai awalan atau akhir kalimat ^^ Hanya saja, bagi saya, jika memang bukan diambil dari kisah nyata, bacaan atau tontonan anak-anak itu lebih menyenangkan jika clear dari praduga dan stereotipe buruk.

Dalam menikmati kesustraan anak, Saya lebih tertarik dengan cara Kapten Haddock mengumpat, walau sosoknya agak antihero karena suka mabuk dan merokok tapi pilihan kata umpatannya legendaris, baik dalam bahasa aslinya atau saat penerjemahannya, yang prosesnya sama-sama ga mudah. Ada semacam intelektualitas linguistik karena sadar pasarnya adalah anak-anak. Sejuta topan badai, kepiting busuk, dkk itu masih terasa lucu saat direka ulang di bibir anak-anak.

Sedangkan untuk tokoh antagonis, saya lebih suka yang ga murni antagonis. I mean, setiap orang kan pasti ada sisi menyebalkan tapi bukan berarti jahat, karena 'jahat' itu kata yang tajam, kebayang kan perasaan Rangga? Begitu juga dengan peran jagoan,  ga harus yang jadi ketua kelas dan menang lomba marching band dan sains (seimbang yak otaknya ^^), tapi yah mungkin jadi ga seru ya filmnya hahahaha ...

Nah, kan ga mudah bikin kalimat yang bebas praduga kaya gitu. Makanya saya maju mundur dengan naskah cerita anak ^^ (alasan). Mungkin karena saya juga masih terperangkap dalam stereotipe buruk (sedih). Semoga yang terjadi menjadi dorongan bagi kita berkarya yang lebih baik ya ....

Jumat, 10 November 2017

JJS: Sisi Lain Suami di Bumi Perkemahan Gn. Gede Pangrango



Saya baru saja datang ke lokasi pernikahan saudara sepupu saya dan sempat mencegat sang pengantin yang hendak naik mobil menuju rumah lain untuk berganti pakaian resepsi. Terburu-buru saya ucapkan selamat dan kemudian menghambur ke pelaminan mencari mak etek dan etek saya selaku orangtua pengantin untuk memberi salam selamat. Tak lupa saya menyalami satu per satu tamu yang semuanya saudara itu. Semua bingung melihat saya begitu terburu-buru kembali menuju arah keluar.


“Mau ke mana?” tanya mereka seragam.
“Mau kemping.”
Lalu sorot mata bergulir dari ujung kaki ke ujung kepala, mungkin dikira saya akan kemping dengan baju pesta ^^


Pernikahan yang dilangsungkan di Bekasi itu memang mendadak, nyaris bersamaan dengan keputusan suami untuk mengajak anak3nya kemping perdana. Melihat antusias suami membeli berbagai macam perlengkapan outdoor, mau disuruh diundur demi mengikuti perkawinan saudara dengan lebih khusyuk kok ya ga tega. Suami memang sejak masa muda senang kemping, dan paling tidak sejak berkenalan dengan saya, dia sudah tidak pernah lagi naik gunung. Hampir 10 tahun lah. Jadi kalau dia sudah bersiap, mungkin rindunya sudah membuncah. Walau anak yang terkecil baru saja menginjak dua tahun.


Kami buru-buru sebelum jalur ke arah puncak ditutup. Maklum akhir pekan. Suami juga sudah berjanjian dengan kawannya untuk ketemuan di TKP.
Setelah sempat nyasar mencari yang namanya Bumi Perkemahan akhirnya ketemu juga.


Dan yang pertama saya cari adalah, kamar mandi. ^^ sebagai orang yang hanya pernah satu kali kemping, kamar mandi di hutan itu agak gimana gitu ya. Namun, kami beruntung. Kawan suami sudah menyiapkan segala sesuatunya, terlebih karena dia pun membawa keluarganya. Posisi tenda di dekat sungai dan kamar mandi tapi tetap aman bagi anak-anak berkeliaran. Tenda dan kasurnya menggunakan jasa sewa di sana, jadi kita cukup bawa makanan. Walau makanan juga bisa beli sih hehehe ....



Setelah turun dari mobil di parkiran, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya memang sudah lama tidak olahraga. Ada tangga tinggi banget untuk mencapai tujuan, setelah menanjak, lalu turunan. Herannya, anak-anak ga merasa capek tuh (apalagi yang digendong), semangat menuruni tangga terlebih melihat terowongan berbentuk krokodil zaman dinosaurus. Mereka semakin jejeritan ketika tahu kemahnya di dekat sungai dan langsung menghambur ke sana. Sesuatu yang sudah bisa ditebak. Arusnya deras walau tidak dalam, jadi anak-anak tetap ditekankan main di antara bebatuan. Sekalian mandi lah di sungai. Walau kamar mandinya cukup bersih dan hanya perlu bayar kalau ada penjaganya, tapi airnya juga dingin banget.



Tenda  yang saya dapat berukuran sedang. Sebenarnya dengan tiga anak dan satu keponakan, cocoknya tenda yang besar, tapi waktu itu kawan suami kadung pesan yang sedang, ga nyangka anak temannya banyak kali ya hehehe. Sudah ada dua kasur busa juga bantal. Suasananya kaya di rumah sendiri aja, tidur mepet-mepet hehehe ... Kalau mau shalat juga ada tempatnya, cukup apik karena dibuat semacam bilik bambu dan air wudhu yang mengalir terus. Mukenanya juga banyak.


Ketika malam mulai menggantung, anak-anak tidak berkurang excitement-nya. Mereka penasaran dengan berjalan-jalan dalam gelap hanya berbekal lentera led. Sementara orang dewasa mencoba membuat api unggun. Saat menyalakan api unggun juga jadi ekstra hati-hati karena ada anak-anak yang masih norak-norakna.
Sementara  suami menyombongkan diri, “kalau kemping, teman-teman ayah semuanya makan masakan ayah. Ayah rajin masak soalnya.”



Saya nyengir saja mendengar si tuan besar yang suka banyak komplen soal masakan ini tapi ga mau cuci piring. Eh curcol. Ga tahunya beneran dia semangat pinjam kompor lalu mulai masak ini itu. Ga yang aneh-aneh sih, goreng daging burger (padahal dia ogah banget makan burger), bakar roti, masak air, bikin pop corn ... tumben lah saya makan sesuatu yang dia persiapkan sendiri. Kan saya jadi enak.



Ternyata semakin malam semakin dingin. Ya iyalah, namanya juga di gunung. Anak-anak sudah pakai kaos kaki dan jaket dua, dan mereka pulas banget tidurnya. Apa mereka cape juga setelah main di luar ya?



Keesokan harinya baru deh eksplor ke tempat lain di sekitar situ. Karena tempatnya juga dipakai untuk acara-acara gathering jadi pasti ada yang komersilnya. Salah satunya yang kami coba adalah dayung perahu.Dengan membayar Rp25ribu, kami sekeluarga bisa menggunakan perahu, dayung sendiri tapi yaa ... kayanya ga dalam sih situnya.


 Viewnya luar biasa dengan hutan pinus dan ujung-ujung gunung yang terlihat, tiba-tiba saya teringat suatu tempat di pedalaman Amerika yang sering muncul di televisi. Indonesia ternyata juga punya pemandangan keren kaya gitu. Rasanya saya mau berlama-lama di situ, tapi saya ingat ada dua anak yang  suka ga sabar pengen jumpalitan. Cocok buat melamun soalnya, eh tapi kalau musik kencang yang dinyalakan sound system di situ ga dinyalakan sih...





Destinasi selanjutnya adalah air terjun.  Nah, ini jalannya rada kaya menembus hutan gitu. Ada jalan setapak tapi di tepi jurang. Jadi saya yang mudah tersandung ini lebih memilih menyerahkan si bontot ke suami daripada saya gendong  sendiri. Keputusan memakai sepatu juga tepat, karena di beberapa tempat pijakannya licin. Setelah 15 menit menanjak akhirnya ketemu juga air terjunnya. Ga besar sih, tapi cukup untuk tempat main anak-anak.




Kayanya di tempat seperti ini ga perlu banyak tambahan sih ya. Setidaknya buat anak-anak, sungai  dan lahan luas dengan pohon-pohon sudah jadi arena bermain yang ga habis-habis level kegembiraannya.


Hanya satu malam kami kemping dengan citarasa agak glamping. Sore itu, setelah siangnya kami main-main di tenda saja karena hujan, akhirnya saling berpamitan dengan kawan suami. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, bakal ada lagi agenda kemping bareng keluarga. Hmm... mungkin tahun depan. Ke mana ya? Saya sih selama kamar mandi ok, no probs lah. Belum siap yang harus keruk-keruk tanah buat BAK dan BAB hehehe ...

Believe in Your Story ala Seung Ah Kim




“Ahnyeonghaseyo ...” sapanya lantang dan ceria saat memasuki ruangan Liliput.
Seung Ah Kim seorang story teller yang berasal dari Korea ini langsung memancing sumringah di hadapan 20 peserta workshop di Festival Dongeng Indonesia ke-5. Kelasnya bertajuk, “Cerita dan Permainan Jari dari Korea Masa Lampai.” Dan ketika dia berkata usai membungkuk ke berbagai arah peserta yang duduk setengah melingkar, “I’m from royal family ...” saya tahu tidak salah memilih narasumber.


Festival Dongeng Indonesia ke-5 yang diselenggarakan pada 4-5 November kemarin dihelat di Perpustakan Nasional RI yang baru, bersebelahan dengan lokasi FDI sebelumnya, di Museum Nasional. Semangat sudah bertumpuk-tumpuk sejak saya tahu bahwa saya bisa menggunakan hadiah voucher dari wewocraft yang didapat beberapa waktu lalu untuk mengikuti workshop dongeng. Sudah lama ingin ikutan, alhamdulillah tercapai juga.



Dengan mengenakan baju tradisional Korea, Seung Ah membuka percakapan dengan bahasa Inggris yang jelas tentang pengalamannya dengan kisah-kisah. Seung Ah kecil ternyata kesundulan adik sehingga dia terpaksa diasuh oleh neneknya. Sayangnya, Seung Ah saat itu mudah sekali menangis tapi sulit meredakannya. Sang nenek yang seorang janda melakukan segala cara untuk menghentikan tangis Seung Ah. Namun tidak berhasil. Lalu kemudian dia menggendong Seung Ah di punggung dan kemudian menceritakan kisah-kisah. Saat itulah, Seung Ah terdiam.
Sang nenek memang sudah lama melahap banyak bacaan sejak dirinya menjadi janda. Oleh karena berasal dari keluarga yang konservatif, si nenek tidak diizinkan untuk menikah lagi. Itulah sebabnya, buku menjadi sahabatnya dalam mengatasi kesepiannya. Dan dengan segala pengetahuannya akan cerita-cerita, dia pun membaginya pada Seung Ah.


Setelah si nenek meninggal dunia pada awal 2000-an, Seung Ah kemudian mendirikan Arirang Story Telling untuk melestarikan kisah-kisah dari ribuan tahun lalu yang nyaris tak dikenal lagi oleh masyarakat Korea. Dan berkeliling dunia untuk memperkenalkannya.


Hari itu, Seung Ah mengajarkan sebuah permainan jari yang digunakan untuk menghibur bayi. Gerakannya sederhana, hanya menunjuk-nunjuk telapak tangan, namun kata yang diucapkan Konci” (maafkan jika salah tulis ya) berarti “bumi”. Yang bermakna, bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi. Lalu ada gerakan membuka dan menutup kepalan yang dilakukan dua tangan sekaligus sambil menyebut “caem caem”. Gerakan ini berarti “mengambil” yang kemudian ada sedikit gerakan tarian dengan geriak “caem caem” yang mengingatkan kita, bahwa jika sudah tahu cara mengambil, maka harus tahu cara melepaskan. Gerakannya sederhana, tapi maknanya dalam. Dan itu yang diucapkan pada bayi-bayi 5000 tahun lalu.


Walau sederhana, tapi jika sudah tahu maknanya maka cara penyampaian pun juga akan berbeda. Itulah sebabnya Seung Ah mengusung slogan, “Believe in Your Story”. Karena untuk percaya juga harus ada cinta, dan jika sudah percaya dan cinta maka akan ada usaha untuk mendalami dan menghayati dalam menyampaikan sebuah cerita. Gunakan apa pun kebisaan kesukaan Anda dalam membacakan cerita, maka pesannya akan sampai kepada penonton. Entah itu menyanyi, menari atau fokus pada jalan cerita.


Seperti ketika Seung Ah membicarakan tentang aksi teatrikal tradisional Korea bernama “Pan So Ri”. Pertunjukkan langsung oleh seorang penyanyi sekaligus pencerita yang ditemani seorang penabuh drum. Dilakukan di sebuah tanah lapang, biasanya alun-alun, yang bisa berlangsung mulai dari 5 jam hingga 9 jam. Pertunjukkan yang pastinya melelahkan itu mendapat dukungan dari para penonton, mulai dari pujian, teriakan semangat, hingga sekadar mengingatkan untuk istirahat minum atau memperbaiki riasan. Namun dengan kemampuan ‘believe’, kisah yang dilakonkan tidak menjadi hilang fokus atau hilang rasa karena berbagai jeda. Saat Seung Ah mencontohkan sebagian fragmen Pan So Ri dari sebuah kisah romantis, saya terbayang bagaimana seseorang memerankan begitu banyak karakter dengan ragam dialog dan mimik dalam satu lakon. Pasti perlu banyak latihan, karena saya sering tertukar-tukar mimik jika melakukan story telling tanpa melihat buku.

Penampilan storyteller dari Jepang di lantai 7 Perpustakaan Nasional RI


Itu sebagian kesenangan saya saat mengikuti kelas Seung Ah. Kan jadi semangat lagi bercerita, walau masih dalam lingkup ke anak-anak sendiri.
Seung Ah dan berbagai story teller dari berbagai dunia membawa masing-masing pengalamannya untuk dibagi di Festival Dongeng Indonesia. Saat saya berkesempatan melihat kolaborasi para story teller tamu itu di satu panggung, saya merasa mereka membawa energi yang begitu dinamis sehingga anak-anak tidak beranjak dari duduknya menatap satu per satu penampil naik ke atas panggung. Mereka bahkan kian semangat merespons para penampil. Suara anak-anak menggema lantang.

Semua mata tertuju ke para story teller di FDI 5


Teman kuliah yg sempat bareng gabung KPBA, tapi sekarang dia masih jadi penggiat dongeng


Kak Aio saat tampil di FDI 5


Keren lah buat Kak Aio dan kawan-kawan dari Ayo Dongeng Indonesia atas acaranya. Tahun depan insya Allah saya akan datang lagi.



Jumat, 03 November 2017

JJS: Ditinggal Suami Demi Sunrise di Dieng


SUNRISE di DIENG
Photo Credit FB @herysogirkuswahyo


“Kamu tahu ga kenapa aku ajak ke sini?” tanyanya tiba-tiba di tepi telaga Cebong.
“Ga,” aku melengos karena masih teringat rasa kesal semalam.
“Karena pertama kali aku dibawa ke gunung ya ke sini sama ibu.” Lalu raut merindu itu pun terlihat.


Sejak pertama kali ide ini dicetuskan oleh suami, saya agak-agak merasa tidak adil. Memang tujuan utamanya ke Dieng, tapi itu berarti tetap mampir ke Purworejo, kampung kedua orangtuanya dan tempat mereka dimakamkan. Bukan apa-apa sih, masalahnya ini sudah kali kedua kami ke Purworejo, sedangkan kampung mama papaku belum pernah dipijak satu kali pun. Dan ini sudah 9 tahun pernikahan. Terbayanglah saya kalimat-kalimat mama yang sudah bisa ditebak kalau beliau tahu saya ke sini. Maklumlah ya, namanya berkeluarga pasti kalau mau berkunjung jadi memikirkan apakah adil atau tidak ke orangtua.


Namun, begitu melihat ada seorang anak yang tengah merindukan orangtuanya plus dengan kenangannya, masa iya mau marah lama-lama. Sambil berdoa dalam hati, semoga disegerakan ada rezeki bisa ke kampung orangtua saya di Sumatera Barat dan Aceh. Demi menyenangkan orangtua.


Butuh dua jam untuk mencapai daerah Dieng dari Purworejo, area pegunungan yang semakin naik jalannya semakin jauh pandangan ini melihat tebaran ladang kentang di kiri kanan mobil.


Menara pandang Dieng menuliskan posisinya di ketinggian 1789 m dpl. Di situlah lapis pertama jaket anak-anak (dan saya) dipakai. Sekadar mencicipi mie ongklok dan french fries khas Dieng untuk pertama kali. Menara pandang itu sedang pembangunan di sisi-sisinya, mungkin di saat-saat tertentu spot itu banyak dicari oleh para wisatawan.  Mau beli perlengkapan dingin di sini juga murah meriah.





Kabut mulai turun sehingga kami bergegas kembali ke mobil sebelum jalanan tertutup kabut. Wajar jika harus berhati-hati, jalanannya selain berkelok-kelok pun sempit dan truk atau bis berlalu-lalang.


Saat tiba di area kota, hujan rintik-rintik, menambah rimbun kabut-kabut yang mengambang di sekitar mobil. Saya yang jarang-jarang ketemu kabut pun menyempatkan berfoto. Jaket lapis kedua pun dipakai.




Kawasan Candi Dieng merupakan tujuan kami selanjutnya. Di dalam kawasan ini, ada beberapa candi, salah satunya belum selesai dibangun ulang karena ada satu baris bagian yang hilang. Kawasan ini menyenangkan karena tertata rapi, seperti taman. Walau kami masuk dari bagian belakang yang agak mencurigakan gitu jalannya, tapi begitu sudah masuk kawasan, terlihat cukup terawat. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari sambil menghangatkan tubuh. Sementara suami sibuk mengambil gambar. Sinyal internet juga cukup bagus di sini, sehingga keponakan yang turut ikut bersama kami sempat-sempatnya update status.






Ada beberapa kawasan candi di Dieng, tapi tidak seluas kawasan Candi Dieng.


Setelah pembelajaran perbedaan agama dan keyakinan singkat pada anak-anak dari tur candi ke candi, maka berlanjut ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saatnya mengunjungi kawah.

Foto pakai masker di samping kawah Sikadang ternyata bisa bagus juga



Walau penampakan depannya agak kurang meyakinkan, tapi kawasan Kawah Dieng Sikidang ini cukup sadar bahwa perlu menambah pengalaman bagi para wisatawan yang datang. Daerah sekitar kawah dipagari kayu, sedangkan di sana sini dibuat berbagai spot foto. Hanya saya bingung kenapa temanya harus romansa ya? Kawasan ini kan agak-agak berbahaya tapi ‘love’ di mana-mana ^^ Dengan masker yang sudah dibeli sebelumnya, aroma kawah ini memang kuat. Panasnya juga dimanfaatkan untuk merebus telur dan kemudian dijual. Hmm ... memangnya beda ya rasanya?


Kawah yang beberapa bulan lalu pernah meledak, Kawah Sileri pun kami datangi. Ketika kami datang berselang beberapa minggu sebelumnya juga meledak untuk pertama kalinya. Ada yang aneh ketika kami dalam perjalanan ke sana. Area kawasan Sileri letaknya jauh dari kota. Ladang luas atau pembangkit gas di kiri-kanan, lalu tiba-tiba ada waterpark. In the middle of nowhere. Dan itu berseberangan dengan kawah Sileri. Waterparknya besar juga, makanya terlihat canggung. Apa berenang di situ airnya hangat?

Kawah Sileri. Tidak sebesar sikadang tapi auranya bikin deg-degan ngeri.



Berbeda dengan kawah Sikidang, kawan Sileri ini malah terlihat seperti kawah mencurigakan. Tanah yang kami pijak semakin lembut seiring bertambah dekatnya kami ke tepi kawah. Tidak ada pagar kayu di sana. Begitu mulai terlihat tanah yang menghitam, saya meminta anak saya berhenti melangkah. Ngeri juga sayah hehehe ...


Dan tak butuh waktu lama, kami pun bertolak ke desa tertinggi di Dieng, desa Sembung.

Dieng. Di mana-mana kentang.



Mobil kami diberhentikan di depan gapura. Azan magrib berkumandang, langit sekejap menjadi gelap. Kami tidak bisa masuk ke penginapan yang dituju karena akan dilaksanakan hajatan alias ada panggung yang memblokir jalan. Para penjaga di sana mencarikan penginapan yang memungkinkan untuk kami pakai. Dan kami pun menunggu dalam balutan jaket dan sarung tangan. Kini dinginnya bukan main-main.


Akhirnya dapat juga kami satu rumah. Karena memang tidak bisa ke mana-mana juga, maka fokus kami adalah makan dan tidur. Terbayang harus bangun pagi-pagi sekali besok demi mengejar matahari terbit. Tapi dasar saya yang memang sulit tidur pulas di perjalanan, saya terbangun di tengah malam dan mencari makan malam yang memang sengaja saya minta dilebihkan belinya ke suami. Bolak-balik saya mencari, lalu saya tanya ke suami, eh sudah dia habiskan. Duh ... dingin-dingin begini ga ada makanan berat? Apalagi perut itu letaknya dekat sama hati, jadi kalau perut lapat, emosi pun menumpuk. Yah sudahlah, terpaksa tidur dengan perut minta-minta makan, membayangkan pecel ayam dan nasi hangat yang semalam dimakan. Dan dalam keadaan setengah tidur itu yang dipaksa-paksakan, saya lihat suami sibuk mondar-mandir dengan perlengkapan dinginnya lalu kemudian keluar kamar dan penginapan itu hening hingga waktu yang lama.




Saya terbangun dan usai shalat keluar kamar. Ternyata ... Ga ada siapa pun di luar kamar!


Rupanya suami, sepupu, dan keponakan sudah bertolak menuju Bukit Sikunir demi mengejar matahari terbit. Oke lah, bung .... Kita ditinggal .... Pasti ga mau disuruh gendong bocah dua tahun sambil hiking kan? Galau sih mau nyewa baby carrier .... Dan sekarang kami Cuma diminta senyum-senyum saja mendengar cerita mereka melihat sunset yang menurut suami agak berawan dan telat munculnya.


Toh, anak-anak disempatkan juga mampir ke Telaga Cebong yang merupakan kaki bukit Sikunir. Sepertinya warung-warung di sana hanya buka saat jelang matahari terbit untuk para wisatawan, karena ketika kami tiba, semuanya tutup. Di sekitar Telaga ada beberapa kemah di sana, wedew .... ga usah dibayangkan deh dinginnya kaya apa semalam. Kayanya hanya penyanyi dangdut yang joget di panggung semalam saja yang tidak merasakan menggigitnya hawa malam kemarin.

Telaga Cebong di Satu Sisi

Telaga Cebong dari Sisi Lain



Telaga Cebong ini ga ada yang spesifik sih, tamannya belum ditata, tapi kalau mau bengong-bengong sepi, di sini cocok. Suasananya quite, telaganya tenang. Kalau saya lebih lama di sini mungkin sudah dapat banyak ide tulisan.


Lihat degradasi warna di telaga Warna



Usai menyerahkan kunci penginapan, kami meroda hingga ke Telaga Warna. Sayang saya tidak turun karena si bayi tidur. Lagian saya buta warna, jadi agak sulit merasakan keindahan telaga yang konon memantulkan tiga warna yang berbeda. Sepertinya sudah di tahap Let It Go, yang penting suami senang. Kasihan kan sudah jadi pencari nafkah utama dan satu-satunya, tapi ga boleh menentukan sendiri mau liburan ke mana? Maklumlah, aslinya anak outdoor, jadi bertahun-tahun ga naik gunung tentu rindu juga .... Yah semoga semakin semangat menjalani hari.


Sabtu, 28 Oktober 2017

Mengenang Pahlawan & Meneruskan Perjuangan di Haul ke-107 tahun Cut Nyak Meutia


“Dulu daerah ini merupakan penghasil gas terbesar ke-3 di dunia.” Kata papa sambil menunjuk sebuah area penampungan gas besar di sebelah kanan jalan.
“Sekarang diambil alih Pertamina. Mungkin untuk besi-besi tuanya.”
Penampungan gas itu tidak hanya satu, tapi tiga. Dan kini nasibnya terlantar karena gas sudah habis disedot. Hanya didampingi sebuah landasan udara yang juga menatap langit kosong.


Lahan seluas itu ... bahkan sapi-sapi yang berkeliaran pun terlihat kurus.


Nelangsa mengiringi perjalanan saya menuju Pirak, Aceh Utara. Jaraknya tidak sampai satu jam dari Lhokseumawe tempat saya dan keluarga menginap. Namun, dengan kondisi yang lancar seperti itu, satu jam berarti telah menempuh jarak yang begitu jauh.


Sejak Jumat sore, kami sudah tiba di bandara Malikussaleh. Sekilas seperti mudik bersama, tapi saya bukan termasuk orang berada, jadi dengan papa mama saya dan tiga anak saya minus bapaknya disponsori tiket gratis beserta hotel oleh sepupu saya yang juga datang bersama keluarga besarnya. Adalah Haul ke-107 tahun Cut Nyak Meutia yang diselenggarakan pada Ahad, 22 Oktober 2017 lah yang menjadi tujuannya.
Haul ini sejatinya diselenggarakan setiap tahun, tetapi tahun ini agak berbeda konsepnya. Niatnya adalah silaturahmi keluarga besar Cut Nyak Meutia dari berbagai penjuru di satu tempat yaitu, replika Rumah Adat Cut Nyak Meutia di Pirak. Dari berkumpul bersama itu, diharapkan dapat saling menyumbang ide (dan mungkin materi) untuk membangun Aceh Utara.



Mobil yang saya tumpangi akhirnya parkir di tanah lapang. Setelah menyapa para santriwati bercadar yang tengah menyapu sampah yang berserak di situ, saya pun masuk ke area rumah adat yang menghadap ke sawah luas. Para santri ini berasal dari pesantren milik Tgk. Muslim yang juga berlaku sebagai Ketua Panitia dan didatangkan untuk membantu berjalannya acara.


Di dalam area itu setidaknya ada tiga rumah panggung. Tidak semuanya berbentuk rumah sih, ada yang berbentuk balai, ada juga yang seperti saung besar.
Saya penasaran masuk ke Rumah Adat Cut Nyak Meutia yang katanya keponakan saya memberi sedikit sentuhan baru agar museum itu tidak monoton. Begitu saya masuk, seperti tengah masuk ke ruang keluarga. Foto-foto keturunan Cut Nyak Meutia bertebaran. Saya senyum-senyum sendiri melihat wajah-wajah yang saya kenal di sana. Ada juga gambar karya abang saya di sana. Padahal sudah lama dibuat dan tidak menyangka juga bakal dipajang di sana.



Namun kemudian saya terpikir, bagaimanakah rupa museum ini sebelum ditambahi foto-foto ini? Hampa?


Rumah itu terbagi menjadi lima ruangan. Ada ranjang di satu kamar, lemari-lemari di kamar yang lain. Selebihnya adalah ruang tanpa sekat yang memuat foto-foto dengan beberapa anak tangga sebagai pemisahnya.
Acara dimulai pukul 08.30 dengan doa bersama. Tak jauh dari panggung, ada panitia yang tengah sibuk memasak daging dari tiga sapi yang dipotong semalam. Dengan kayu bambu, panas apinya seolah bersaing dengan matahari yang kian terik.


Lalu acara dibuka dengan penampilan dari kelompok rapai. Semacam grup perkusi khas Aceh. Tabuh-tabuh digantung dan kemudian dipukul dengan instruksi tertentu sehingga menghasilkan bunyi yang menggema hingga jauh. Anggotanya  terdiri dari bapak-bapak yang sudah beruban, tapi saya tahu untuk memukul rebana besar itu butuh kekuatan yang tidak sedikit. Kata papa, pertunjukan rapai juga bisa dibuat dua kelompok di mana satu kelompok dengan yang lain saling berbalas. Mungkin semacam balas pantun kalau di minang..


Setelah melewati lima sambutan dari Ketua Panitia, perwakilan keluarga Cut Meutia, perwakilan Gubernur, dan perwakilan Kapolres, yang membuat anak-anak gelisah karena lelah perjalanan, sebuah tausiah dari Teuku Nasrudin cukup menarik perhatian, untungnya dengan bahasa Indonesia. Mohon maaf, saya orang Aceh campuran hehehe ...


 “Teruskan perjuanganmu!” wasiat terakhir Teuku Cik di Tunong kepada Cut Nyak Meutia berulang kali diucapkan di setiap sambutan. Bahwa perjuangan tidak berhenti pada Cut Nyak Meutia, kita yang masih hidup pun juga punya tugas untuk berjuang.


Setelah acara pesijuak dan tari, akhirnya makan-makan ....


Para warga yang datang dan semakin banyak disuguhi nasi dengan lauk rendang sapi yang baru dimasak. Yang datang jumlahnya membludak, bahkan sampai ribuan sehingga berulang kali saya mendengar panitia meminta para pengunjung bersabar karena nasi sedang dimasak lagi dan lagi. Pihak keluarga dan undangan khusus masih aman karena telah disiapkan aneka makanan yang disiapkan sejak dini hari tadi. Sebagai orang yang ga tahan masak banyak, melihat piring-piring berisi lauk bertebaran itu rasanya takjub. Udang, cumi, ayam tangkap, ikan kayu, rujak aceh ... nyam nyam nyam ....


Sayangnya setelah makan, anak bungsu saya tepar di pangkuan saya. Sehingga praktis saya tidak bisa mobile menyapa para saudara, apalagi saya banyak tidak tahu nama-namanya. Alhamdulillah masih ada yang sudi menghampiri. Bukan silaturahmi kan kalau tidak menambah perbendaharaan anggota keluarga.


Saya pun dihampiri dua anak muda yang memperlihatkan kondisi makam Cut Nyak Meutia. Cut Nyak Meutia syahid saat penyergapan di hutan dan kemudian dikebumikan di tempat itu juga. Dan hingga kini, akses menuju makam Cut Nyak Meutia yang juga berdekatan dengan makam guru Cut Nyak Meutia, sulit dijangkau. Masih hutan belantara dan harus hiking sejauh 28 km. Saya teringat cita-cita yang dikatakan Tgk Muslim saat sambutan, “Tahun depan, bisa jadi kita selenggarakan di makam Cut Nyak Meutia.” Lalu mendadak lutut saya gemetar.


Papa dulu pernah berucap kalau dibuat jalan yang layak tentu dapat menjadi lokasi wisata ziarah. Tapi, untuk pembangunan jalan sederhana seperti tangga pun kan butuh kerjasama dengan berbagai pihak. Belum lagi soal Rumah Adat yang butuh upgrade dari isi maupun perawatan karena ada barang-barang yang hilang. Dari pihak Kapolres menyebutkan bahwa untuk pahlawan Aceh lainnya sudah dibuatkan semacam sosiodrama dan respons nya positif, jadi sepertinya untuk Cut Meutia sudah masuk dalam daftar. Entah kapan terealisasi.


Ketika kami pulang, tempat acara masih ramai orang. Saya menyesal juga tidak bisa memberi kontribusi yang berarti untuk kelancaran acara. Memang saya bukan panitia, tapi melihat kakak-kakak sepupu saya sibuk sekali, rasanya tidak sopan jika tidak turun tangan.



 Sebenarnya tanpa diketahui papa, saya dan kakak-kakak saya sempat kebagian tugas membuat undangan dan spanduk. Urusan desainnya menjadi tanggungjawab abang pertama dan kakak ketiga saya, sedangkan saya dan abang kedua terkait editorial. Tugas sederhana tapi karena melibatkan abang saya yang di Inggris sehingga selama satu minggu itu kami agak kagok waktu hehehe ... Jam 11 malam, ketika abang saya siap mendesain, kakak saya sudah ngantuk. Begitu subuh, kami siap memberi koreksi, abang saya yang di sana sudah ngantuk. ^^ Tentu bukanlah apa-apa dibanding yang dilakukan para seksi sibuk di Lhokseumawe. Terima kasih sepertinya tidak cukup. Walau menerima kritik sana-sini, mereka berusaha sebaik yang mereka bisa. Maafkan adikmu yang kurang tanggap ini, dan semoga semua usahanya diterima sebagai amal baik dan menjadi berkah.


Semoga semangat haul ini tidak berhenti sampai di sini, PR kita banyak. Kalau saling mencari cara agar bisa bekerja sama, pasti banyak hal yang dapat diwujudkan.



Kamis, 14 September 2017

KAMYStory: Tips Emak-emak Jadi Seksi Dokumentasi Sekolah


Sebenarnya ga tips banget sih, ini hasil saya jadi juru potret buku tahunan di TK anak-anak selama hampir tiga tahun berturut-turut. Saya pun bukan ahli motret dan sepenuhnya mengandalkan kamera suami yang di-auto 😅. Tapi demi efisiensi anggaran ya jadinya saya mengajukan diri. Sebenarnya sih karena rindu berurusan sama buku hehehe ... Nah dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang saya catat untuk diingat.

1. Mengumpulkan Dokumentasi SELURUH kegiatan
I mean the whole activities. Makanya sekarang diusahakan setiap ada acara yang orangtuanya boleh nimbrung, saya datang untuk menambah koleksi foto. Kalau hanya ada guru-guru ya mau ga mau rada sabar-sabar kalau sudut pandangnya ga pas menurut saya. Biasanya saya mengingatkan ke ibu guru, paling tidak ada foto anak-anak bersama duduk manis (biasanya berlaku untuk kegiatan kunjungan). Foto dari walimurid pun ga serta merta saya hapus dari ponsel walaupun tidak ada foto anak saya. Tetap disimpan di folder laptop, siapa tahu dibutuhkan.




2. Pertajam Kemampuan Mengabsen Anak
Saat saya sempat mengambil foto di suatu kegiatan, penting untuk bisa tahu siapa saja yang belum difoto. Hal ini untuk menghindari para walimurid yang sedih melihat tak satupun foto yang di-share ada anaknya. Biasanya para orangtua bekerja ya. Jadi tanpa bermaksud pilih kasih, yang ga ada orangtuanya biasanya saya foto lebih sering. Bukan apa-apa, soalnya saya kan ala-ala jadi ga tentu sekali motret langsung bagus. Kalau fotonya hanya sekali lalu buram lalu si anak ga ada dokumentasi sama sekali oleh orangtuanya, niscaya begitulah ... pasti ada yang sedih. Malah tak jarang, karena sibuk foto anak orang, foto anaknya sendiri malah seadanya ^^’.

3. Konsep
Kalau ini terkait buku tahunan. Karena serba sederhana, konsep jadi harus kreatif. Dan konsep ini juga harus selaras sama layouter-nya. Biasanya demi penghematan, saya pilih konsep yang tidak pakai crop atau ilustrasi berlebihan. Layouternya pun gratisan, masa saya minta yang serba wah ini itu. Dua kali bikin buku tahunan TK, saya banyak mengkoreksi diri terkait konsep ini. Apalagi untuk anak TK memang yang paling penting adalah foto anaknya jelas dan bagus ekspresinya, which is sulit yaa ... anak-anak itu kalau difoto satu-satu itu gayanya kaya mau pasfoto, tegang tegap gitu. Mungkin karena bukan orangtuanya yang foto. Tapi kalau mengandalkan koleksi foto dari orangtua masing-masing, saya suka khawatir dengan inkonsistensi kualitasnya. Kan tiap orang punya definisi yang berbeda-beda.



4. More is Better
Harus selalu punya backup plans siy intinya. Mengambil foto sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan dapat membantu saat terjadi error ketika sesi foto untuk buku tahunan. Yang paling sering sih ketika foto bersama ternyata banyak yang ga masuk. Sedangkan saya ga terlalu suka metode foto anak di-crop lalu dibuat seolah-olah hadir. Terlalu banyak efek. Antara ga suka sama ga bisa siy hehehe ... Jadi punya banyak koleksi itu sangat membantu, apalagi jika berasal dari kamera yang sama hihihi ...


5. Belajar Fotografi
Mau ga mau harus belajar cara foto sih. Mengandalkan auto kadang ga dapat hasil yang diharapkan. Apalagi suka dikritik sama suami. Ya cahaya lah, ya fokus. Padahal motretnya pun sudah kaya akrobat karena namanya anak-anak geraknya cepat dan tidak diduga, beda banget sama potret kue hehehe ... Makanya harus berani minta maaf juga kalau dikeluhkan para orangtua jika ada yang ga berkenan. Kan ga mentang-mentang proyek terima kasih, terus boleh sebisanya saja. Iya ga siy?


6. Pasrah Ga Punya Foto Diri
Walau termasuk anggota komite, yang namanya juru potret yah harus siap kalau pada akhirnya foto dirinya sendiri ga ada. Hahaha .... Yah sejak menghilangkan salah satu komponen tripod, dan belum beli lagi, jadi pasrah ajalah hahaha pure juru potret. Biar kalau mau disalahin, ga ada fotonya di buku tahunan. Lah malah mau kabur ^^.


Apa pun itu,  mudah-mudahan tahun ini bisa buat yang lebih baik. Semangat.